Muhammad Firman Suryanto, Lulusan Magister Pertama Unsulbar Raih IPK Sempurna 4,00

Muhammad Firman Suryanto, M.M., Sumber foto: Dokumentasi pribadi

Jurnalis: Yultiani Neti

Unsulbar News, Majene — Menjadi catatan sejarah baru bagi Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), Sabtu, (01/08/2026).

Di tengah kemeriahan acara wisuda di Auditorium Mini Unsulbar, nama Muhammad Firman Suryanto, M.M., bergema bukan hanya sebagai wisudawan biasa, melainkan sebagai lulusan Magister (S2) pertama dari angkatan pertama kampus kebanggaan masyarakat Sulawesi Barat tersebut.

Lebih istimewa lagi, pria yang berdomisili di Kabupaten Majene ini berhasil menutup masa studinya dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna, yakni 4,00, dalam waktu tepat dua tahun atau empat semester.

Namun, di balik jubah toga dan nilai sempurna tersebut, tersimpan kisah tentang dedikasi, manajemen waktu yang ekstrem, dan visi besar untuk membangun ekonomi kerakyatan di daerahnya.

Sehari-hari, Firman bukanlah akademisi murni yang hanya duduk di perpustakaan. Latar belakang pekerjaannya berada di sektor telekomunikasi yang dinamis. Ia bahkan pernah meniti karier di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Persinggungannya yang intens dengan manajemen proyek, bisnis, dan masyarakat akar rumput memicu ketertarikannya pada pemberdayaan ekonomi.

Hal ini ia wujudkan dengan terjun langsung membina Koperasi Kelurahan Merah Putih, pengalaman di lapangan inilah yang kemudian membawanya kembali ke bangku kuliah.

Bagi Firman, memilih Program Pascasarjana Unsulbar bukan sekadar mencari kampus terdekat, melainkan sebuah keputusan strategis.

“Kampus ini memberikan wadah yang tepat bagi saya untuk memperdalam ilmu manajemen pemasaran sekaligus langsung mempraktikkannya pada masyarakat sekitar. Saya juga ingin membuktikan bahwa kualitas pendidikan di daerah kita sangat mampu bersaing,” tegas Muhammad Firman Suryanto.

Tesis yang Lahir dari Pengalaman Lapangan

Riset tesis yang digarap Firman tidak jauh dari nadi kesehariannya. Ia mengangkat penelitian yang berfokus pada Koperasi Kelurahan Merah Putih di Majene, menelaah secara ilmiah bagaimana kualitas layanan dan strategi membangun hubungan dengan anggota dapat berdampak langsung pada kepuasan serta loyalitas mereka.

Tujuannya jelas: ia ingin menemukan formulasi ilmiah agar koperasi di tingkat kelurahan dan desa bisa berdiri kuat, meraih kepercayaan warga, dan menjelma menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan.

Disiplin sebagai Musuh Sekaligus Guru

Meraih IPK 4,00 sembari bekerja penuh waktu dan mengurus keluarga tentu bukan perkara mudah. Firman mengakui bahwa manajemen waktu adalah musuh sekaligus guru terbesarnya selama menempuh studi S2.

Di satu sisi, ia dihadapkan pada standar akademik dan penelitian yang tinggi dari kampus. Di sisi lain, pekerjaan profesional dan pengawalan program koperasi di lapangan tidak bisa ditinggalkan.

“Menyeimbangkan antara pekerjaan, riset tesis, dan keluarga sangat membutuhkan disiplin yang tinggi. Sering kali jam istirahat atau waktu bermain bersama anak dan keluarga harus saya korbankan demi menyelesaikan analisis data dan penelitian,” ungkapnya dengan nada reflektif.

Meski demikian, Firman enggan jumawa. Ia menyadari bahwa pencapaiannya adalah hasil dari ekosistem yang mendukungnya.

“Semua ada karena Allah yang memberikan kemudahan. Ada juga keluarga yang selalu memberikan dukungan, serta para dosen di Unsulbar yang selalu membimbing,” imbuhnya.

Menjadi Tolok Ukur bagi Lulusan Berikutnya

Menyadari posisinya sebagai magister pertama Unsulbar, Firman merasakan perpaduan antara kebanggaan dan tanggung jawab yang besar. Ia mengapresiasi jajaran rektorat dan dosen yang telah sukses menjalankan program pascasarjana hingga melahirkan lulusan pertamanya.

Namun, ia sadar bahwa gelar magister pertamanya ini menjadi sebuah benchmark atau tolok ukur.

“Sebagai pembuka jalan, saya memiliki tanggung jawab moral. Saya harus menjadi tolok ukur dan membuktikan di tengah masyarakat bahwa kualitas lulusan pascasarjana Unsulbar sangat mumpuni dan bisa diandalkan,” paparnya.

Ke depan, Firman tidak berencana untuk berhenti belajar. Ia memiliki cita-cita jangka panjang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Doktoral (S3), baik di dalam maupun luar negeri. Mimpi terbesarnya adalah mengabdi sepenuhnya sebagai dosen di bidang bisnis digital dan pemasaran, mencetak generasi unggul berikutnya.

Sebagai penutup, magister pertama Unsulbar ini menitipkan pesan yang kuat bagi para mahasiswa dan masyarakat Sulawesi Barat

“Jangan pernah ragu dengan almamater kita. Selama kita punya tekad, disiplin, dan tujuan yang jelas untuk membangun daerah, kita pasti bisa mencapai hasil yang sangat maksimal di mana pun kita berada.”

Capaian Firman diharapkan dapat menjadi inspirasi sekaligus pemantik semangat bagi civitas akademika Unsulbar, bahwa dengan tekad kuat dan disiplin tinggi, prestasi gemilang bisa diraih di mana pun seseorang berpijak.

Editor: Nurzahira

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok