
Penulis : Indri Astuti, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Angkatan 2021
Unsulbar News — Rizki percaya, jika semua hal yang datang kepadanya tak pernah terjadi secara kebetulan. Dia dengan sukarela meyakini bahwa, satpam kampus yang setiap pagi menegurnya karena memarkirkan motor di area parkir dosen (yang kadang kala membawa jet pribadi hingga buldozer), adalah ketentuan dari Tuhan. Dia yang selalu ingin buang air di setiap siang hari, meskipun merasa nelangsa karena sumber air di kampusnya tidak memadai. Rizki tetap percaya hal tersebut adalah ketentuan Tuhan.
Mata kuliah pagi yang sudah terjadwal sebagai kelas luring, namun dibatalkan oleh dosen secara sepihak, membuat Rizki tak ‘mengeluh’ dan masih tetap percaya bahwa itu sudah jalannya dan memang akan terjadi. Toh, Rizki memang sesayang itu kepada dosennya. Dia percaya bahwa beliau-beliau yang mungkin sudah berumur tersebut tak paham aturan dalam sebuah perjanjian waktu, atau bisa jadi kebingungan bagaimana menggunakan aplikasi hijau walau hanya sekedar menyumbangkan waktunya beberapa detik saja untuk mengetikkan kalimat pembatalan kelas. Tolong ditandai, Rizki tak ‘mengeluh’ sama sekali.
Rizki memang selalu percaya, hal yang diberikan untuknya memang akan selalu menjadi untuknya dan dia menghormati keputusan-keputusan tersebut. Apalagi yang menentukan adalah penulis skenario terbaik. Dia yakin, yang diberikan Tuhan kepada hidupnya adalah sebuah bentuk cinta.
Iya, cinta. C-I-N-T-A.
Yang mengisi hati. Bukan isi pulpen.
Satpam yang sering marah-marah, adalah bentuk cinta. Dosen-dosen dengan segudang keperluan dan hobi memporak-porandakan jadwal mata kuliah, adalah bentuk cinta. Kampus dengan jalan menanjak-berliku-berbatu-berdebu-kurang airnya, adalah bentuk cinta. Kantin yang harga makanannya keterlaluan, senioritas yang marak terjadi, teman-teman kelas absurd yang dia temui, adalah bentuk cinta.
Dagangan untuk dana himpunan yang sering tak laku, jugalah bentuk cinta. Rasa laparnya ketika tanggal tua, maupun yang berhutang padanya tapi pura-pura lupa ketika di tagih, juga adalah bentuk cinta. Dia amat menghargai satu kata sejuta makna tersebut.
Rizki memang se-lovely itu sebagai manusia. Namun bukan berarti dia tak memiliki jiwa laki-laki a.k.a gentle. Jangan salah, selain amat menjunjung tinggi rasa romantisisme, dia juga adalah seorang laki-laki dewasa yang bertanggung jawab, populer di kampus, suka menolong, tidak sombong dan memiliki wajah ganteng.
Bukan berarti Rizki menyombongkan dirinya, namun begitulah penilaian yang dia terima dari orang-orang sekitarnya. Bukan Rizki yang menilai sendiri, tapi merekalah yang menyebut demikian. Yang ini juga ditandai, Rizki bukanlah orang yang sombong.
Meskipun terlihat sangat sempurna luar dalam, namun Rizki tetaplah seorang manusia yang pasti memiliki kekurangan. Tapi Rizki pikir, dia memang sekeren itu, kecuali hobinya yang suka memprovokasi orang. Yang ini tidak perlu ditandai.
Terkadang memang, Rizki sering menjadi dalang dibalik issue-issue yang berseliweran di penjuru kampus. Bukan berarti Rizki bermulut lemes dan senang bergabung dengan mahkluk edan, yang dunianya dipenuhi dengan gosip. Rizki tentu tahu membedakan teritori cewek-cowok yang seharusnya. Dalam kasus Rizki, dia dikenal sebagai provokator kampus.
Jangan salah, kegabutan mahasiswa kura-kura satu ini bisa dianggap cukup ekstrem. Suatu hari yang sangat cerah, tanpa pertanda apapun, dia tiba-tiba menuliskan email pengaduan kepada Kaprodi dengan nickname Kuda Pony. Isi suratnya membahas mengenai kegiatan pelayanan akademik kampus. Bagian tersebut tentu masih bisa ditolerir dan dianggap sebagai pengaduan dari mahasiswa biasa. Namun di ujung kalimat surat tersebut, mahasiswa yang mengaku namanya adalah Kuda Pony bin Assegaf itu, mencantumkan sebuah ancaman: “Mau kuberitahu satu universitas kalau Anda punya simpanan mahasiswi di kampus?”
Bapak Kaprodi hampir saja terkena serangan jantung. Rizki segera diminta menemui Kaprodi secara pribadi.
Iya, secara pribadi.
“Maaf, Pak. Saya sedang jualan es nutrisari buat dana kegiatan lusa nanti. Kecuali bapak mau borong, saya gas kan kesana sekarang juga.”
Sekali menyelam, minum air.
Rizki tersenyum dengan ramah kepada pria yang sudah beruban tersebut, “Tenang, Pak, saya jaga rahasia, kok.”
Rizki memang sesayang itu kepada para dosennya. Jadilah dia membagi-bagi jus jeruk tersebut kepada para ibu-ibu dosen yang sumringah melihat mahasiswa tampan tiba-tiba berada di kantor fakultas.
Sejak hari itu, Rizki mulai jadi bulan-bulanan bapak Kaprodi. Berkali-kali dia hampir saja ditendang keluar dari teritori kampus dengan alasan bentuk ketidaksopanan terhadap dosen. Namun bukannya gentar, Rizki malah makin menjadi-jadi. Semakin dia naik semester, semakin juga taringnya mulai terlihat. Bagi dosen kebanyakan, Rizki adalah sumber ancaman yang perlu disingkirkan.
Rizki percaya, orang-orang yang tidak menyukainya adalah orang yang paling mencintainya.
Konsep cinta Rizki memang segila itu, men!
“Mau beli risol, Riz?”
Rizki menoleh begitu seorang mahasiswa lintas jurusan berbicara kepadanya. Rizki mengangkat sebelah kening, menanyakan ‘apa’ dengan gelagat yang acuh.
“Mau risol? Dua ribuan satu,” tawar mahasiswa itu lagi.
Mata Rizki mengamati seniornya tersebut, “Online shop risol, Kak? ”
“Bukan! Ini ada galdan, jadi saya tawarin kamu. Mau gak?”
Here Rizki go again.
Demi apapun, Rizki tidak tertarik dengan risol. Tapi kasihan, senior orang kalau dikacangin yang notabenenya Rizki juga sering berdagang seperti itu merasa paham pada derita yang dialaminya.
“Boleh, kak. Saya mau 7 biji.”
“Ok, deh.” Senior itu sumringah, lantas mengambil handphonenya dan mengetikkan chat untuk pemesanan yang akan di antar ke kampus.
Rizki mendongak, sudah semester 4 tapi dia belum merasakan kemajuan apapun dalam dirinya. Dia menerawang ke langit, lalu menoleh ke senior pedagang risol tersebut.
“Tapi ngutang dulu, ya, Kak.”
Rizki yakin, senior itu akan segera menyebutkan satu mahkluk berkaki empat yang lidahnya selalu terjulur dan mirip kam- ehm!


Cerita yang sangat menarik, ditungggu kelanjutan ceritanya