
Karya: Magfirah
Unsulbar News, Majene – Aku lahir di sebuah kota besar, di mana gedung-gedung tinggi menjulang ke langit dan jalan-jalan dipenuhi dengan orang-orang yang sibuk berlalu-lalang. Akan tetapi, di tengah keramaian itu, aku merasa sangat kesepian.
Hari ini sang mentari kembali menyapaku dengan senyumnya yang cerah, cahayanya masuk di sela-sela jendela kamarku. Aku membuka mata sembari mengulum senyum terbaikku.
Berharap hari ini lebih baik dari hari sebelumya.
“Huft, ucapan itu yang selalu aku katakan nyaris di setiap harinya,” gumamku dengan nada lirih.
Dan yah, kalimat itu yang selalu aku katakan setiap harinya untuk mengawali rutinitasku. Meskipun kenyataannya, hari-hariku berlalu seperti biasanya, kesepian.
Rumah yang mungkin orang-orang merasa nyaman, merasa bahagia, merasa tentram, dan merasakan kasih sayang didalamnya itu membuat mereka merasakan sebenar-benarnya rumah untuk kembali dari lelahnya menghadapi dunia sendirian. Pulang yang di sambut dengan kasih sayang ayah dan ibu, serta canda tawa kakak dan adik. Namun, berbeda denganku, rumah yang katanya adalah tempat ternyamanmalah membuat aku merasa sangat kesepian dan terkurung dalam kesunyian.
Ayah dan ibuku sibuk dengan pekerjaannya. Mereka jarang ada waktu untuk aku. Aku sering ditinggalkan sendirian di rumah–berteman dengan televisi. Di kelilingi oleh dinding-dinding kosong. Bahkan, di sekolah pun, aku tidak memiliki banyak teman. Aku selalu merasa seperti orang asing, tidak ada yang mengerti aku. Guru-guru sering memuji aku karena nilai-nilai yang bagus, tapi itu tidak membuat aku merasa lebih baik. Terkadang, aku berjalan-jalan sendirian di kota, guna menghalau rasa sepiku. Tetapi, apapun yang kulakukan, perasaan kesepian itu selalu mengikutiku.
Aku benar-benar merasa kesepian.
Hingga, suatu hari aku menemukan sebuah taman kecil di dekat rumahku. Taman itu tidak besar, tapi ada bunga-bunga yang cantik, juga sebuah bangku panjang yang nyaman. Aku jadi sering duduk di bangku itu, menatap bunga-bunga yang tumbuh di sekitar. “Hai cantik jangan sedih-sedih terus ya, nanti cantiknya hilang loh.” Sayup-sayup aku mendengar suara, namun tak kutemukan pemilik suara itu.
“Huh, mungkin ini cuman imajinasiku saja,” gumamku sambil menghela nafas panjang.
Di taman itu aku merasa sedikit lebih baik. Aku bisa menenangkan pikiran aku dan merasa lebih dekat dengan alam. Tapi ketika matahari terbenam dan aku harus kembali ke rumah, perasaan kesepian itu kembali menghampiriku.
Suatu malam aku terbangun, dikelilingi oleh dinding-dinding kosong yang tampak menakutkan. Kamar kecilku terasa seperti penjara, dengan hanya satu jendela kecil yang membiarkan cahaya bulan masuk. Aku merasa seperti terkurung dalam kesunyian. Setiap malam selalu kulewati dengan hati yang sedih, sunyi dan sepi.
Hari ini sekolah sedang ramai-ramainya, karena ada acara porseni yang di adakan oleh sekolah untuk menyambut libur semester. Ada beberapa rangkaian kegiatan yang di lakukan seperti lomba voli, badminton, basket, menyanyi, puisi, menulis cerpen dan berbagai kegiatan seni dan olahraga lainnya.
“Kamu udah siapkan buat ngkutin lomba nulis cerpen?” tanya salah satu teman kelasku sekaligus satu-satunya teman yang paling akrab denganku.
“Iya aku udah siap kok,” jawabku dengan nada bersemangat.
Nah salah satu hobiku adalah menulis entah itu puisi, dongeng dan cerpen. Aku suka menulis karena dengan menulis aku bisa merasa lebih tentram, lebih imajinatif, dan lebih bahagia. Hari-hariku ditemani oleh buku-buku dan dari situlah kesepianku sedikit terbayarkan.
Saat pengumuman kemenangan lomba menulis cerpen aku sedikit merasa gelisah aku takut membuat teman-teman kelasku, dan guru ku kecewa. Lalu salah satu teman dekat berkata padaku, “Tenang saja, aku yakin kamu pasti pemenangnya.” Aku hanya bisa bernafas lega mendengar ucapannya.
Saat pengumumanya juara ketiga bukan namaku yang disebut begitu juga dengan juara kedua. Hal itu membuatku pasrah dan hendak beranjak dari tempat duduk.
“Loh kamu mau kemana, ini belum selesai pengumumannya,” ucap temanku melihatku bersiap pergi.
“Iya ini aku kebelet mau ke toilet dulu,” balasku setengah berbisik.
Saat aku beranjak ke belakang jauh dari ramainya orang, sayup-sayup aku mendengar pengumuman juara pertama.
“Dan, juara pertama dari lomba cerpen ini adalah-
“Mutiara Indah Permata!” Sontak saja aku terkejut dan tak menyangka ternyata cerpenku bisa mendapatkan juara pertama.
Suara tepuk tangan yang gemuruh memenuhi lapangan sekolah saat ini. Aku berlari ke kerumunan orang-orang tadi dan mendapati wajah senang dari para guru dan teman-temanku.
“Kamu memang luar biasa, Nak,” puji salah satu guru sekaligus wali kelasku.
Perasaan bahagia menyelimutiku saat ini. Aku bergegas ke panggung untuk mendapatkan penghargaan tersebut.
Namun, kebahagiaan itu hanya sekejap seperti angin yang berlalu saat aku sampai di rumah kesepian, kesunyian kembali menghampiriku.
“Andaikan saja ayah dan ibu bisa menyaksikanku menerima hadiah hari ini aku pasti senang sekali,” kataku penuh kekecewaan.
Beberapa jam setelah aku di rumah seperti biasa aku menonton televisi sambil ditemani sebuah buku di tanganku. Aku kembali merasa sepi.
“Assalamualaikum anakku yang paling cantik.” Kudengar suara dibalik pintu. Aku bergegas membuka pintu.
“Ayah, Ibu”! kataku sumringah dan langsung memeluk keduanya dengan erat.
“Ibu kangen banget sama kamu, Sayang,” kata ibuku membalas pelukan tak kalah eratnya.
“Aku juga kangen, Bu,” balasku tanpa sadar berderai air mata.
Rasa rindu itu begitu membuncah. Mungkin karena sudah setahun lamanya mereka meninggalkanku untuk mengurus bisnisnya di luar negeri. Di rumah ini aku diasuh oleh seorang bibi, yang tinggal disebelah rumah.
“Ayo, Ibu, Yah, kita masuk,” ajakku tanpa melepaskan pelukan dari mereka. Kami duduk di depan televisi dan bercerita tentang cerpen yang aku tulis saat menang lomba di sekolah.
“Wah, anak ayah memang keren sekali,” pujinya sambil memamerkan dua jempolnya padaku.
Sembari asik bercerita, aku dikagetkan dengan bunyi letusan balon yang tiba-tiba saja berada di genggaman kedua orang tuaku. Suara letulsan balon itu bergema memenuhi seluruh ruangan.
“Ada apa nih?” tanya ayahku sedikit terkejut.
“Selamat ulang tahun anak Ibu yang cantik, pintar dan rajin,” ucap Ibu sambil berjalan ke arahku dengan membawa kue dengan ukiran “Happy Birthday Kesayanganku”.
“Selamat ulang tahun anak Ayah yang paling cantik,” sahut Ayah memelukku dengan penuh kasih sayang.
Ibu menyela, “Yuk, tiup lilinnya dulu.”
“Semoga panjang umur, selalu sehat, makin cantik, makin rajin belajarnya. Jadilah anak yang sholehah, yang bisa membanggakan keluarga. Dan yang paling penting, jadilah pribadi yang mandiri, tapi tidak egois, ya Nak.
Ibu dan Ayah sangat menyayangimu. Maafkan kami yang belum bisa selalu ada di sampingmu setiap saat, yang sering jauh dari jangkauanmu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, semua ini Ibu dan Ayah lakukan demi kamu—demi masa depanmu.
Meskipun jarak memisahkan, doa kami tak pernah absen dalam setiap sujud. Ibu dan Ayah selalu mendoakanmu, Nak. Untuk itu, maafkan kami, ya. Kami bangga dan sangat mencintaimu.” kata ibu dengan nada yang kedengaran menahan tangisannya mata ibu berkaca-kaca melihatku dan aku jatuh di pelukannya.
Aku terbangun dan melihat sekeliling. Ayah dan Ibu… ke mana mereka?
“Ayah? Ibu? Kalian di mana?” teriakku sambil berlari menyusuri seluruh ruangan. Tak kutemukan mereka. Hanya sunyi yang menjawab.
“Apakah semua ini cuma mimpi?” bisikku lirih.
Aku terduduk diam. Menatap kosong ke arah sudut rumah. Tak lama, air mataku jatuh.
“Kalau tadi memang mimpi, aku tak ingin bangun. Aku ingin kembali tertidur, agar bisa bertemu mereka lagi,” ucapku pelan, dengan suara penuh harap.
Tak berselang lama, ponselku berdering. Di layar muncul nama: “My Mom”.
Segera kuangkat.
“Happy birthday, sayang! Anak Ayah dan Ibu yang paling cantik!” Itu kalimat pertama yang kudengar. Aku tersenyum.
“Sehat-sehat ya, Nak. Jaga dirimu baik-baik. Ibu dengar kamu juara satu, ya? Hebat! Good job, sayang. Love you,” kata Ibu dari seberang telepon.
“Iya, Ibu. Makasih… Ayah juga,” jawabku sambil tersenyum. “Ibu dan Ayah kapan pulang?” tanyaku.
“Tunggu minggu depan ya, Sayang,” jawab Ayah.
“Iya… cepat pulang ya. Rumah sepi banget tanpa kalian,” balasku dengan suara sedih.
“Iya, Sayang. Ibu tutup dulu ya, Ibu ada meeting. Jangan lupa makan, jaga kesehatan. Dadahhh, assalamualaikum,” kata mereka hampir bersamaan sebelum menutup telepon.
“Waalaikumsalam… love you, Mom and Dad.”
Dan ya… ternyata tadi itu cuma mimpi.
Sesibuk apa pun Ayah dan Ibu, aku tak pernah marah—apalagi membenci. Aku selalu mengingatkan diri untuk tetap patuh. Semua yang mereka lakukan adalah demi aku, demi masa depanku. Itulah cara mereka menunjukkan cinta dan kasih sayang.
Walau kesepian sering kali datang diam-diam, aku belajar memahami bahwa di balik kebahagiaan, pasti ada kesedihan. Dan sebaliknya, di balik kesedihan… selalu ada harapan akan kebahagiaan.
Aku tidak tahu sampai kapan rasa sepi ini akan bertahan. Namun, aku selalu berharap, suatu hari nanti, aku akan menemukan seseorang yang benar-benar mengerti aku—seseorang yang bisa membuatku bahagia, hingga kesepian tak lagi terasa.
Editor: Nurul Inzana Filail

