Cerpen: Tarian Awan di Tanah Mandar

Tarian Awan di Tanah Mandar. Sumber foto: Ilustrasi Pribadi

Karya: Iyun Na

Unsulbar News, Majene — Malam ini purnama lagi. Namun, ada yang berbeda dari malam-malam sebelumnya. Tak ada keelokan dari sang arutala. Kegelapan seolah menelan habis seluruh cahayanya. Lalu aku hanya berdiam diri di teras rumahku dengan laptop menyala; menampilkan naskah tulisanku yang tidak selesai. Hingga kebosanan menyergapku. Seolah memanggilku untuk tak kemana-mana, hanya berkawan dengannya. 

Malam ini benar-benar terasa berbeda, pikirku. 

Hingga suara bisikan halus mengagetkanku. 

“Resapi dalam-dalam, mari berkelana bersamaku.” Suara lirih itu perlahan berubah jadi bentakan. “GANTIKAN AKU!” 

Aku tersentak hebat. Pandanganku memburam dan semuanya jadi gelap. 

Ada apa ini?!  Apa yang terjadi? Dan tadi itu apa?

Kik kik kik kik kiiik.

Suara tawa yang membuat seluruh bulu kudukku meremang. Aku berada dalam kegelapan. Tak melihat apapun. Tak ada apapun di sini. 

“Siapa kamu!?” teriakku. 

Kik kik kik kik kiiik.

Hanya balasan cekikikan yang kudapat. 

“Jangan takut, kik kik kik, jangan takut, kik kik kik, Kaifiya,” sahutnya. 

Aku tergigil. Mencari dari mana sumber suara itu. Naas, tak ada yang kulihat. Semuanya gelap. Sebenarnya aku ada di mana?!

“Aku memanggilmu, kik kik kik, sebelum itu aku akan menceritakan sebuah kisah padamu, Kaifiya.” Suara itu kembali bergema. Cih, lelucon apalagi ini. 

“Aku tak sedang ingin mendengar kisahmu itu! Kembalikan aku!” bentakku penuh emosi. 

Kik kik kik kik kiiik.

“Aku akan mengembalikanmu, kik kik kiiik, tapi setelah mendengar kisah ini, dan–” Ada jeda sesaat. “Menyelesaikan kisah tak selesai ini, kik kik kiiik.”

“Apa maksudmu sialan?!” Teriakanku menggema dalam ruang gelap ini. 

Kik kik kik kik kiiik.

“Ada satu dongeng yang perlahan-lahan dilupakan oleh anak muda sepertimu, kik kik kiiik, karena itu aku akan memberitahumu kisahnya. Tentang seorang gadis seusiamu, yang hidup di Tanah Mandar. Pada masa itu, gadis bernama Samba Paria bersa–”

“Aku tidak ingin mendengar dongeng konyolmu! Kembalikan aku!” Siapa juga yang ingin mendengar dongeng. Dia pikir aku tertarik? Hell, no! 

Kik kik kik kik kiiik.

“Jangan menyela gadis manis, aku belum selesai. Atau kau ingin mulutmu kututup paksa ya?” Ancamannya membuatku kembali tergigil. Aku bungkam. Bukan karena takut akan ancamannya, tetapi suaraku tertahan. Seolah-olah pita suaraku diambil paksa.

“Samba Paria dan adik kandungnya tinggal di sebuah gubuk yang terletak dekat dengan hutan. Kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Suatu hari, Raja yang berkuasa pada masa itu dikenal akan kekejaman dan kebengisannya; kadangkala ia membunuh penduduknya tanpa sebab, demi kesenangannya, hingga bermain-main dengan para gadis.” 

Kik kik kik kik kiiik.

“Lalu, ada hari dimana sang Raja merasa bosan dan ingin berburu ke hutan. Di saat yang sama, Samba Paria dan adiknya sedang berada di hutan mencari makanan untuk menyambung hidup. Kamu tidak penasaran akan peristiwa selanjutnya yang akan menimpa Samba Paria?” 

Memangnya aku peduli dengan nasib gadis yang tak kuketahui itu, dumelku dalam hati. 

“Kamu harus penasaran, Kaifiya. Karena–” Suaranya terdengar semakin dingin.

“Kisahnya akan dilanjutkan olehmu,” lanjutnya. 

Ucapannya membuat jantungku bertalu-talu; seolah-olah telah berlari maraton. 

“APA MAKSUDMU?!” Suaraku akhirnya bisa keluar juga. 

“Mari kita hitung mundur, tiga, kik kik kiiik,” balasnya mengabaikanku. 

“Dua, kik kik kiik.” Sialan kenapa aku merasa tidak nyaman. Apa yang akan terjadi setelah ini? 

“Tiga!” 

Kik kik kik kik kiiik.

Suara tawanya menggema seiring kesadaranku di dalam ruangan gelap itu kembali hilang. Aku mati, ya? 

Hingga sebuah peristiwa pekan lalu menari-nari dalam memoriku. 

Hari itu, sepulang dari kelas terakhir perkuliahan, aku bertemu dengan seorang perempuan tua. Ia meminta tolong untuk membeli dagangannya; ia menawarkan sebuah kain tenun dengan motif unik. Namun aku mengabaikannya. Aku buru-buru, ingin segera pulang dan tidur. Akibatnya aku tak sengaja membuatnya terjatuh, belum sempat membantunya ojek pesananku sudah datang. Aku lalu meninggalkan perempuan tua itu seorang diri. Tatapan tajamnya sungguh membuatku bergidik ngeri. Lalu, mendadak cuaca cerah siang itu seketika mendung. Jika kuingat-ingat kembali aku menjadi merasa bersalah. 

Kik kik kiiik. 

Rasa bersalahmu itu sudah tak berguna.

Suara itu lagi!

Tiba-tiba suara ledakan besar menyentakku.

BANG!

“Kak! Sadarlah, kumohon!” Rasanya sakit, seseorang menepuk-nepuk pipiku. 

Aku membuka kelopak mataku dengan cepat. Napasku memburu menjadi tidak beraturan. Rasanya seperti bangkit dari kubur. Lalu, suara tangisan kencang anak lelaki yang kuyakin tadi menepuk pipiku mengalihkan atensiku. 

“Siapa kamu?” tanyaku dengan suara yang nyaris tak terdengar. 

Ia tergugu. Perlahan mengusap kedua pipinya. “Kakak, ini aku, adikmu,” jawabnya. 

Aku melongo. Sejak kapan aku punya adik? Aku anak tunggal, hei!

“Aku tidak mengenalmu, sungguh,” balasku sedikit frustasi. 

“Kau benar-benar kakakku, tadi aku melihat kakak terjatuh saat memanjat pohon itu,” keukehnya menatapku penuh keyakinan. 

Aku menyerngit heran. Tidak. Tunggu! Aku dimana?! 

“Ini dimana?”

“Hutan.” 

“Ha?” 

Anak lelaki itu lantas memberikan padaku sebuah benda pipih, tampak seperti cermin. 

“Lihat wajahmu, Kak,” ujarnya. Seakan-akan aku meragukannya; dan itu memang benar.

Aku menerima benda yang tampak seperti cermin. Kudekatkan benda itu ke wajahku. Aku menatap lamat-lamat wajah yang terpantul dalam cermin. Wajahnya amatlah cantik nan jelita. Aku tak mengenalnya sama sekali.  Sangat berbeda jauh sekali dari wajahku yang pas-pasan dan juga memiliki bruntusan di dahi. 

Aku tersadar. Ini bukan wajahku!

Ini bukan tubuhku! 

Milik siapa ini?! 

“Kak, ayo pulang, aku sudah lapar,” sahut anak lelaki itu, ia lantas berdiri dan melangkah pergi. 

“Tunggu!” Aku mencoba berdiri. Rasanya masih belum bisa kuterima. 

“Ayo, Kak, nanti keburu malam. Kita akan sulit untuk pulang.” 

Aku menghampirinya. “Kurasa saat jatuh, kepalaku mengalami gangguan. Aku lupa siapa namamu dan segalanya.” 

Kik kik kik kiiik. 

Sebuah tawa familiar itu menggema di kepalaku. 

Kaifiya, kamu adalah gadis yang kudongengkan tadi. Temukan akhirnya, kik kik kiiik. 

Lagi-lagi aku hanya bisa mengumpati kata yang jadi judul lagu Luicy Juicy yang sedang hits saat ini. S I A L A N.

“Kak, sepertinya kita harus ke pusat kota untuk mencari tabib.” Alih-alih menjawab pertanyaanku, anak lelaki itu malah membuatku masing gemas. 

“Luka ku tidak parah, tak perlu sampai ke kota. Kita tidak punya uang untuk itu,” timpalku. 

“Tapi–” 

Aku menyela ucapannya dengan cepat, “Ayo, kita pulang saja.” 

“Pimpin jalan, aku lupa arah rumah kita.” 

Selama perjalanan pulang ke rumah yang tidak kuketahui, aku hanya diam. Anak itu juga melakukan hal yang sama. Seolah-olah kami memang terbiasa dengan kesunyian ini. Cukup jauh berjalan, aku akhirnya melihat sebuah bangunan kayu; seperti gubuk dan tampak tua. 

Jangan bilang itu, rumah yang anak ini maksud. 

Aku menelan ludah susah payah. Rasanya tercekat. 

TIDAKK! 

Aku tidak sanggup hidup di masa ini!!!

Kik kik kik kik kiiik. 

Dia lagi! 

Jika ingin segera pulang, cari tahulah akhir dari kisah ini.

“Ayo, Kak, masuk.” Aku bergidik ngeri memandangi bangunan tua di depanku. Kurasa lebih baik mati saja daripada harus menjalani hidup tanpa gadget dan internet. Dan apa-apaan tempat ini; tak layak ditinggali. 

Ibu tolong aku! Aku ingin pulang, huwaaa!

***

Ini hari ke enam aku berada di dunia aneh. Yah anggaplah seperti itu. Rasanya menjalani zaman sejarah saja. Segala hal mendadak sulit dilakukan. Belum lagi untuk menyambung hidup saja rasanya seperti mempertaruhkan nyawa. Aku ingin pulang!!!

Apa ini karma karena aku selalu nge-halu mengalami transmigrasi dari berbagai novel-novel yang kubaca? Huft. Aku bahkan masih tidak tahu akhir dari kisah ini. Sebenarnya siapa sih orang itu. 

Asik dengan pemikiran randomku, aku yang saat ini sedang mencuci pakaian di tepi sungai yang tak jauh dari gubuk merasakan bulu kudukku merinding. Hingga sebuah bambu dengan ujung yang runcing nyaris menempel di pipiku; membuatku menahan napas. Kesialan apa lagi yang akan menimpaku kali ini?

“Berbalik!” Titahnya dengan suara khas lelaki yang sangat menggelegar. 

Aku dengan penuh ketakutan membalik badan. Mataku nyaris keluar saat mendapati segerombolan pria dengan berbagai senjata; senjata kuno yang pernah kulihat di buku sejarah. 

“Si-siapa, kalian?” tanyaku gugup. 

Lelaki yang kutebak berumur tiga puluhan itu menyeringai aneh. 

“Bawa dia!” 

“Ti-tidak! Lepaskan aku!” tepisku meronta-ronta kala kedua tanganku ditarik paksa oleh dua lelaki yang berada di samping lelaki yang memberi perintah tadi. 

“Sebuah kejahatan tidak mengenali raja negeri ini,” ujarnya. 

Aku menatap tak percaya. “Ra-raja?!” 

“Kamu akan menerima hukuman raja, bawa dia!” 

TIDAK!!!

Aku bahkan tidak tahu kalau ada raja di dunia ini. Haisss. Apa yang harus kulakukan? Aku harus kabur. Berpikirlah otak cantikku. Biasanya dalam cerita-cerita seperti ini pasti ada hal yang bisa kulakukan. Yayayaya, aku harus mengelabuinya. 

Upaya pemberontakanku sia-sia. Tenagaku terkuras habis karena bertingkah layaknya cacing kepanasan. Aku putus asa!

Aku akhirnya tiba di kerajaan. Woah, memang persis seperti yang tertulis didalam buku sejarah. Ini tanah Mandar, bukan? Yah aku ingat kata-kata di ruang gelap itu; dongeng yang terjadi di Tanah Mandar. Aku tidak ingat jelas tentang kisah ini. Tetapi dalam perjalanan, aku mendengar seseorang meneriakkan sebuah nama kala melihatku. 

“Samba Paria!” 

Baiklah, mari kita menelusuri ingatanku tentang dongeng gadis bernama Samba Paria, aku ingat pernah mendengar seseorang menceritakannya padaku. Aku pun tenggelam dalam pemikiranku. 

“Gadis cantik, aku akan menikahimu.” Suara seseorang mengagetkanku. Tidak. Apa katanya?! ME-NIKAHI-KU? In your dream, Dude! 

***

Baca Juga: Puisi: Keheningan

Suara perayaan yang menggema di bangunan ini seakan-akan menulikanku. Air mataku sudah habis. Nasib buruk yang kuhindari sejak tiba di sini seakan tak bisa kuelak. Padahal aku telah melakukan berbagai cara untuk menghindarinya. Aku marah pada diriku yang tak berdaya ini. 

Lihat, apa-apaan gaun pengantin ini; menyakitkan mata!

Aku menatap masam pada pria kejam di sampingku. Ia menawarkan tangan kirinya untuk menuntunku menaiki kuda. 

Kik kik kik kiik.

Suara itu!

Jalanilah, jalanilah, kik kik kiik. 

Terlalu sibuk dengan pikiranku, membuatku tak sadar ternyata aku sudah berada di atas kuda. Pengalaman baru yang tak pernah terpikirkan dalam benakku. Aku akhirnya menikah dengan pria yang menyebut dirinya raja.

Selama acara pernikahan berlangsung, aku sama sekali tidak fokus. Aku hanya memfokuskan diri untuk menggali seluruh ingatanku tentang dongeng yang ada di Tanah Mandar. Oh, ayolah, anak sejarah sepertiku ini mana boleh melupakan dongeng sejarah. 

Malam harinya, aku akhirnya menemukan ingatan itu! Meski samar, tetapi semakin kupikir, semakin membuatnya jelas;terlebih lagi aku menyatukan ingatanku dengan suara di ruang gelap. Sebelum pria jahat itu masuk ke kamar ini, aku harus segera bertindak. 

Secara garis besar, aku saat ini berada dalam kisah seorang perempuan pemberani yang diculik oleh raja kejam dan berhasil membunuhnya. Klise sekali. Baiklah, aku hanya perlu membunuhnya, bukan? Akan kulakukan! Aku akan kembali pulang. 

Suara derit pintu mengalihkan perhatianku. Aku menatap pria itu; sang raja. Jika harus membunuhnya, bukankah sekarang adalah saat yang tepat? 

“Tuan, aku tak menjatuhkan cincin permataku. Ia menggelinding jatuh ke sana,” ucapku dengan nada memelas menunjuk ke arah jendela. “Aku sangat menyukai cincin itu.” 

“Aku akan menyuruh mereka mencarinya, tentang saja, selirku.” 

Aku menatap waspada. Ia berjalan menuju ranjang, lalu duduk di tepinya. “Kemarilah. Kamu adalah selirku yang ke-11.” Matamu! Aku tersenyum canggung. Menatapnya dengan ekspresi polos yang dibuat-buat. Beberapa hari yang lalu aku memang sudah memikirkan cara untuk membunuh raja biadab ini. Aku akan membutakan matanya dan menusuk jantungnya dengan pisau dapur yang sudah kulumuri racun. 

Dengan ragu-ragu, aku melangkah mendekatinya. Kusembunyikan tangan kananku yang memegang bubuk cabai dan merica. Saat kedua tangannya hendak menyentuhku, aku dengan gesit memercikkan bubuk tadi di wajahnya. Ia berteriak kesakitan. Aku segera melesat mencari pisau yang sudah kusimpan tidak jauh dari ranjang. Akan tetapi, belum sampai aku menemukan pisau tersebut, suara benturan keras membuatku menoleh. Aku berbalik. Menatap penuh kemenangan dengan musibah yang dialami sang raja. 

“Rupanya aku tak perlu mengotori tanganku. Kamu mati sendiri seperti dalam cerita ya,” gumamku senang. 

***

Kik kik kik kiiik. 

Aku terbangun dengan napas tersenggal-senggal. Aku kembali! Tangisku pecah. Akhirnya aku kembali. Aku janji, aku janji tak akan bersikap lebih baik lagi. Aku janji akan hidup dengan baik. 

Meskipun seperti mimpi, tapi itu tampak nyata. Aku ketakutan seluruh badan. Kejadian aneh ini membuatku jadi lebih mawas diri dan menerapkan prinsip to malaqbi; malaqbi pau, malaqbi gau, malaqbi kedzo. 

Rasanya kejadian ini saling berkaitan dengan perilakuku sehari-hari yang melupakan banyak hal. Termasuk sejarah dan budaya Tanah Mandar ini.

***

“Tarian Awan di Tanah Mandar; Perayaan kebebasan di Tanah Mandar untuk para penduduk yang terjerat dalam bayang-bayang raja kejam.” 

Aku mengetik kalimat akhir dalam naskah ceritaku. Ending yang mengesankan, bukan? 

Kik kik kik kik kiiik. 

Aku berbalik mencari arah sumber suara. Sial! Ada part dua?!

[]

Note: 
Cerita ini ditulis pada saat penulis mengikuti lomba penulisan cerpen tingkat universitas (Lomba Penulisan Cerpen Universitas Sulawesi Barat Tahun 2024, pada 21 Desember 2024), dan berhasil mendapatkan juara 1. 

Nurul Inzana Filail

Just call me Iyun. Meet me on Instagram @iyunniee_

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok