
Karya: Nur Ismailaihatul Jannah
Unsulbar News, Majene — Lab kampus memang selalu punya cerita. Tapi malam itu, cerita yang tersisa tak hanya tentang praktikum kimia atau laporan yang mepet tenggat. Malam itu adalah kisah yang nantinya akan menjadi bahan candaan di banyak tongkrongan, cerita yang dimulai dari hal biasa: begadang mengerjakan laporan.
Namaku Rio, mahasiswa tingkat akhir dengan tugas akhir yang belum juga rampung. Malam itu aku bersama Bima, temanku satu kelompok, memutuskan untuk menyelesaikan laporan praktikum terakhir kami di lab kampus. Sebuah laporan yang sebenarnya bisa saja kami kerjakan di kosan, tapi karena data dan alat ada di lab, dan kami ingin “fokus”, maka jadilah kami memilih tempat itu.
Suasana kampus sudah sepi. Jam menunjukkan pukul 20.47. Di luar, angin malam bertiup kencang, dan hujan rintik mulai turun. Kami menyalakan lampu lab, membuka laptop, dan mulai menyusun hasil praktikum dari kemarin.
“Bro, kalau tugas ini selesai, tinggal presentasi minggu depan, ya?” tanya Bima sambil mengetik pelan.
“Iya. Habis itu… merdeka!” kataku dengan senyum lelah.
Tak lama kemudian, ponsel Bima bergetar. Ia melihat pesan masuk, lalu menghela napas berat.
“Rio… aku keluar bentar ya. Pacarku minta charger, katanya ketinggalan di kelas fakultas sebelah. Aku ambil dulu, cuma sebentar kok.”
Aku mengangkat bahu. “Oke, cepat ya. Jangan lama.”
“Santai, bro. Lima belas menit paling lama.”
Bima pergi, membawa jaketnya dan menutup pintu lab dengan pelan. Aku kembali fokus ke layar laptop. Laporan masih 40% selesai, dan aku sudah mulai mengantuk. Tapi suara hujan dan ketukan lembut di kaca justru membuat suasana nyaman.
Sekitar lima belas menit berlalu. Aku mulai sadar bahwa suasana terasa berbeda. Udara menjadi lebih dingin, angin terdengar lebih nyaring menerpa jendela, dan… lampu tiba-tiba padam.
Ceklek
Semua gelap.
Aku mendongak, refleks. Hanya layar laptop yang bersinar. AC mati, lampu mati, kipas mati. Hujan terdengar lebih keras. Aku berusaha menenangkan diri.
“PLN lagi… biasa,” gumamku, mencoba menghibur diri.
Tapi kemudian…
Kreeeek…
Suara seperti engsel pintu tua yang bergeser pelan. Dari arah lemari logam di pojok lab. Aku diam. Mendengar.
Tok… tok… tok…
Tetesan air? Mungkin dari ventilasi yang bocor. Tapi suara itu terlalu berirama. Terlalu teratur. Seperti… langkah pelan?
Aku bangkit. Jantungku mulai tak karuan. Kutatap layar laptop. Di sana muncul pop-up dari aplikasi antivirus: “Do you want to continue?”
TING!
Seketika, suara musik lembut terdengar dari speaker Bluetooth di sudut ruangan. Suara pelan, seperti… bisikan?
“Ha… ha… ha…”
Aku terpaku. Itu suara… tertawa?
Kupikir aku mulai berhalusinasi. Tapi suara itu nyata. Sangat nyata. Seperti seseorang sedang tertawa pelan di belakangku.
Aku berbalik cepat. Tak ada siapa-siapa.
Kubuka WhatsApp dan mengirim pesan ke Bima.
“Bro. Cepat balik. Aku dengar suara-suara. Lampu mati. Serem ini.”
Tak ada balasan. Aku mencoba menelepon, tapi sinyal hilang. Di luar, hujan makin deras. Jendela bergetar. Lembar laporan terbang dari meja, salah satunya menempel di wajahku. Aku reflek menjerit.
Aku mulai berpikir: apakah ini lab yang katanya dulu ada mahasiswa kesurupan itu? Yang sempat viral di grup kampus? Waktu itu aku hanya tertawa, menganggapnya bualan. Tapi sekarang…
BRAK!
Laci meja terbuka sendiri. Aku lompat mundur.
Di tengah kekacauan, layar laptopku memutar otomatis sebuah video YouTube: judulnya “10 Penampakan Nyata di Lab Kampus”. Video yang dulu pernah kubuka… autoplay menyala.
Seketika pintu lab terbuka perlahan. Angin menerobos masuk. Aku membeku. Sosok berbayang tampak berdiri di balik cahaya petir.
“R-Rio…?”
Itu suara Bima.
Aku langsung berlari, hampir melempar laptop. Bima menatapku dengan wajah bingung setengah panik.
“Kenapa kamu kayak habis ngeliat setan?!”
Aku menunjuk ke segala arah. “Suara… lemari… video… speaker!”
Bima masuk, menyalakan senter dari HP-nya. Kami menyisir ruangan. Lembar laporan masih berantakan, layar laptop menyala dengan video konyol, dan di pojok ruangan…
…speaker Bluetooth tersambung otomatis ke HP-ku sendiri. Playlist “sound efek horor” masih aktif.
“Astaga… ini file yang pernah kau putar waktu presentasi dulu kan?” kata Bima sambil ngakak.
Aku mematung.
“‘Ha ha ha’ itu… sound effect?”
“Iya. Dan suara ‘tok tok tok’ itu… lihat tuh, air bocor dari ventilasi atas. Cuma angin dan air.”
Kami berdua duduk. Hujan masih turun. Aku mulai tertawa. Bima ikut tertawa. Bahkan suara petir pun tak mengganggu lagi.
Keesokan harinya
Laporan berhasil kami kumpulkan. Dosen cuma komentar ringan:
“Ini laporan kelompok Rio dan Bima ya? Tata bahasanya kacau. Kayak dikerjakan sambil dikejar hantu.”
Kami tak berkata apa-apa. Cuma saling pandang… lalu tertawa.
Dan sejak hari itu, kami sepakat:
“Jangan pernah tinggalin temanmu sendirian di lab. Apalagi yang terlalu gampang panik dan suka pakai Bluetooth auto-connect.”

