
Penulis: Siti Nanda Cahya Al Qadri
Unsulbar News, Majene — Saat ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sedang menulis ulang sejarah Indonesia. Dilansir dari laman Tempo.com penulisan ulang sejarah Indonesia melibatkan 113 ahli sejarah dan terdapat 20 orang editor.
Hal ini tentunya dipengaruhi oleh era global saat ini. Banyaknya penelitian, tesis, disertasi, media, hingga konten kreator yang membuka fakta sejarah Indonesia menjadi tambahan pengetahuan yang tidak diajarkan di sekolah.
Selain daripada itu, juga terdapat buku yang menceritakan sejarah Indonesia yang dikemas dalam bentuk novel, salah satunya adalah buku “Laut Bercerita” yang ditulis oleh Leila S. Chudori.
Masih dari laman Tempo.com, penulisan ulang sejarah Indonesia telah mencapai 70 persen dan rencananya akan terdapat 10 jilid dalam buku tersebut. Buku sejarah Indonesia ini ditulis sejak awal tahun ini, dan ditargetkan rampung pada peringatan hari ulang tahun kemerdekaan ke-80 pada 17 Agustus 2025.
Lalu, apa dampak penulisan ulang sejarah Indonesia bagi pelajar?
Tentunya kali ini, pelajaran sejarah di Sekolah akan menjadi pelajaran yang sangat menarik, sebab akan menceritakan dan mengupas satu persatu kisah sebenarnya yang terjadi di Indonesia.
Apabila terdapat gap atau celaah, pelajar tentunya mampu berfikir kritis dan menanyakan hal ini terhadap tenaga pendidik untuk mendapatkan penjelasan yang lebih jelas.
Namun sayangnya ada beberapa hal yang tidak dimasukkan dalam penulisan ulang sejarah Indonesia ini, yang seharusnya sangat penting dimasukkan kedalam buku.
Berdasarkan draft per-Januari 2025, berikut sejarah peristiwa yang tidak termuat dalam penulisan ulang sejarah Indonesia, kongres perempuan Indonesia 1928, pemberontakan pemerintah revolusioner republik Indonesia (PRRI) 1958, hingga tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998.

