
Karya: Iyun Na
Unsulbar News, Majene — Kala itu, aku masih ingat dengan jelas langkah kakiku yang tergesa-gesa menghampiri Kastara Pandya–sahabatku satu-satunya–di basecamp tersembunyi kami.
“Asta!” panggilku padanya yang sedang duduk menikmati makan siangnya.
“Hoi, sini, Na,” sahutnya sambil melambai-lambaikan tangannya.
Aku segera menduduki kursi kosong yang berada di depannya. Menetralkan pernapasan, dan kemudian berujar, “Sebenarnya sih aku cuma mau cerita doang.” Aku tertawa kecil, membuatnya menggeleng seolah sudah tahu tingkahku yang menyebalkan ini.
“Tahu gak, tadi aku nemu postingan di Instagram, tentang teleskop milik James Webb yang ketemu galaksi bentuk tanda tanya, lucu banget gak sih?” ujarku bersemangat.
“Wah, bahkan alam semesta juga bertanya-tanya ya,” balasnya menimpali. “Berarti pengetahuan manusia semakin jelas sedikitnya.”
Aku tertegun. “Ah, benar juga yah. Makin kelihatan bodohnya kita,” kataku sesaat kemudian.
“Tapi Kastara, menurut kamu bakalan terjadi gak perebutan kursi pemerintah antara golongan muda dan golongan tua di jaman ini?” tanyaku sambil menaruh buku yang kupegang sedari tadi ke atas meja.
Kastara menghentikan kunyahannya, lalu menatapku dengan tatapan yang tidak kupahami dan kubalas dengan menaikkan sebelah alis. “Bisa aja sih terjadi kalau golongan muda seberani itu. Tapi kalau dipikir-pikir hal itu bagus juga yah.
“Indonesia mungkin akan jauh lebih baik di tangan golongan muda yang saat ini kita tahu lebih mengenal Indonesia atau malah sebaliknya. Sekalipun golongan muda mengenal negara dengan baik, tidak menutup kemungkinan golongan muda bisa jauh lebih licik dibandingkan golongan tua yang saat ini duduk di kursi pemerintahan,” balasnya panjang lebar.
Aku membuka buku catatanku yang memiliki sampul dengan tulisan kaligrafi yang tercetak tebal “Punya Elina Pijaraya”. Tanganku menulis ringkas pendapat Kastara barusan. Bukankah itu pemikiran yang keren? Di usia sekarang jarang-jarang aku menemui mahasiswa yang memiliki pemikiran sepertinya.
“Elina kalau menurut kamu sendiri, apa sebaiknya kursi pemerintahan saat ini diduduki oleh golongan muda saja?” Pertanyaan Kastara sungguh menarik.
Sebelum menjawab pertanyaan tadi, aku menulisnya terlebih dahulu. Lalu mulai menjawabnya, “Menurut aku, saat ini golongan muda belum layak untuk duduk di kursi pemerintahan dengan pemikiran yang masih seputar, kerja, menikah, sukses.
“Kita tahu kan saat ini dunia sedang nggak baik-baik saja. Meskipun kita gak bisa sepenuhnya percaya dengan apa yang beredar di media sosial, tetapi beberapa sudah memperlihatkan hal-hal bahwa negara kita mengalami krisis moral. Gak perlu jauh-jauh deh, pemerintah lebih senang menyoroti kasus yang viral ketimbang yang ada di depan matanya. Lalu, ada anak muda yang diagung-agungkan keberaniannya karena menyampaikan fakta dengan bahasa yang tidak sopan.” Aku menjeda ucapanku sebentar, melirik Kastara yang masih menunggu ucapanku selanjutnya.
“Gak hanya itu, Kastara, kita juga sempat mendiskusikan hal ini sebelumnya, tentang bagaimana pola pikir anak muda saat ini dan bagaimana pergaulan yang ada, gak usah jauh-jauh lagi, contohnya di lingkungan kampus kita aja. Kita berdua sama-sama sepakat nilai moral yang ada di kampus kita sendiri sangat minim. Aku sendiri bahkan melihat teman-teman sebaya aku yang minum minuman keras, merokok, dan melakukan hal yang sangat diluar nalar bagiku. Lantas apa mereka layak menduduki kursi pemerintahan? Jawabanku jelas nggak lah.
“Negara ini tidak butuh pemimpin yang bahkan belum mengenal dirinya sendiri. Tidak butuh mereka yang datang tanpa strategi, tanpa visi panjang untuk masa depan. Intinya, aku nggak sepenuhnya setuju jika kursi pemerintahan diduduki golongan muda—jika bekal mereka masih sebatas ambisi, bukan kesiapan.” Ucapanku berhenti bersamaan dengan bunyi sirine polisi yang begitu nyaring.
Hal itu membuyarkan lamunanku dan membawaku kepada realita. Aku menjadi buronan negara.
“Elinaaa, ayo lari!” Kastara menarik tas selempangku, aku bahkan tidak ingat sejak kapan lelaki ini menyelesaikan makan siangnya. Seketika aku menjadi linglung. Bagaimana bisa polisi sampai ke tempat persembunyian kami. Mau tak mau aku hanya mengikuti langkah lebar Kastara menuju pintu belakang bangunan ini.
“Kas–”
“Elina, kita pernah sepakat bahwa apapun yang terjadi, golongan muda harus menduduki kursi pemerintah sebelum tahun 2030,” ujar Kastara segera memotong ucapanku.
“Saat ini masih tahun 2028, masih ada waktu setahun lebih untuk menyingkirkan golongan tua,” jeda Kastara sesaat mengambil napas, karena saat ini kami sedang berlari masuk ke dalam hutan. “Sampai hari itu, di antara kita berdua tidak boleh ada yang mati.”
Aku mengangguk dengan susah payah menahan air mata. Entah mengapa perasaanku mendadak sedih. Seolah-olah sahabat baikku ini akan meninggalkanku. “Janji ya!” Aku mengangguk tegas.
“Ayo lewat sini El, ada Dimas dan Bayu di seberang sana.” Aku menggapai tangan Kastara yang terulur padaku. Dengan sekuat tenaga aku berhasil mengimbangi larinya.
Pelarian ini sudah terjadi sejak tiga tahun lalu. Namun, hari ini jauh lebih parah. Karena tempat paling aman milik perkumpulan kami–Anak Bangsa–telah dijarah oleh aparat negara yang tidak setuju dengan pemikiran kami yang menginginkan negara ini menjadi lebih baik.
Sampai hari ini aku masih bertanya-tanya sejak kapan pemerintah menjadi seganas ini yah? Padahal lima tahun sebelumnya negara ini masih menganut paham demokrasi.
Aku tersenyum getir, mengingat bagaimana perubahan ini terjadi. Mulanya mengabaikan kasus-kasus yang terjadi, memberi potongan masa layaknya marketplace terhadap sebuah hukuman, hingga akhirnya membantai golongan muda yang sadar akan hilangnya nasionalisme golongan tua yang kini mengatur sistem pemerintahan. Membuat kebijakan diluar nalar dan tidak masuk akal demi kepentingan pribadi, berakhir di jeruji besi apabila tidak setuju. Lucu sekali.
Yah, kali ini aku sepakat dengan ucapan Kastara waktu kami masih kuliah. Golongan muda yang cerdas dan beretika serta berkemampuan dalam memikul pemerintahan, selayaknya menggantikan golongan tua yang hanya duduk, diam dan menghamburkan uang rakyat.
Karena itu, Kelompok Anak Bangsa tercipta untuk mengembalikan Indonesia yang semestinya. Kemerdekaan adalah bebas. Kenyataannya, kemerdekaan apa yang sedang disandang negeriku ini, sedang rakyatnya terjajah oleh tikus gemuk berdasi?
(Penulis merupakan mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota angkatan 2021)


Keren maju terus Unsulbar News