[Opini] Kebiasaan Hanya Membaca Saat Presentasi: Cerminan Krisis Nalar dan Retorika di Kalangan Mahasiswa

Sumber foto: Google

Penulis: Pindiaman Hulu

Unsulbar News, Majene — Di banyak ruang kelas perguruan tinggi, kita kerap menyaksikan pemandangan seragam: sekelompok mahasiswa maju ke depan, membuka kertas atau laptop, lalu membaca teks secara monoton tanpa kontak mata, intonasi, atau pemahaman mendalam terhadap materi. Presentasi kelompok yang seharusnya menjadi wahana latihan berpikir kritis dan kemampuan komunikasi publik, justru berubah menjadi rutinitas mekanis. Fenomena ini mencerminkan krisis yang lebih mendalam: krisis nalar dan retorika di kalangan mahasiswa.

Padahal, tujuan utama dari presentasi adalah menyampaikan informasi kepada audiens mengenai topik yang dibahas, sekaligus membangun keyakinan terhadap argumen melalui penyajian data, fakta, dan bukti yang disusun secara logis. Untuk mencapai itu, mahasiswa perlu memastikan bahwa penyampaian materi mereka bisa membantu audiens memahami atau setidaknya menangkap esensi dari gagasan yang disampaikan.

Sayangnya, banyak mahasiswa justru menjadikan presentasi sebagai ajang formalitas. Mereka tidak benar-benar memahami materi, melainkan hanya menyalin informasi dan membacanya ulang. Sebuah studi oleh Woodward-Kron (2004) menunjukkan bahwa pendekatan presentasi pasif seperti ini menghambat perkembangan kemampuan komunikasi akademik mahasiswa dan memperburuk ketergantungan pada teks tertulis, bukan pemahaman konseptual.

Lebih dari itu, krisis retorika juga tampak dari minimnya penguasaan terhadap teknik berbicara: struktur penyampaian, artikulasi, pemilihan diksi, dan kemampuan menjawab pertanyaan. Kondisi ini menunjukkan lemahnya perhatian institusi pendidikan terhadap pengembangan soft skill yang esensial di dunia kerja maupun kehidupan publik.

Jika kebiasaan ini dibiarkan, kita bukan hanya mencetak lulusan yang pandai membaca, tetapi yang gagal berpikir kritis dan menyampaikan gagasan dengan percaya diri. Diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap metode pengajaran dan penilaian, agar mahasiswa tidak hanya menguasai isi, tetapi juga mampu menyampaikannya dengan bernalar dan meyakinkan.

(Penulis merupakan Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional angkatan 2023)

Nurul Inzana Filail

Just call me Iyun. Meet me on Instagram @iyunniee_

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok