Mamasa untuk Dunia Menjaga Hutan dan Iklim lewat Diplomasi Hijau Indonesia–Jerman

Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Penulis: Iren Aprilia, Debi Kristanti

Unsulbar News, Majene — Di tengah situasi krisis iklim yang semakin serius, menjaga hutan bukan hanya menjadi pilihan yang baik, tetapi sudah menjadi keharusan strategis agar manusia dapat hidup berkelanjutan. Indonesia dengan hutan tropisnya yang kaya, memiliki peran penting sebagai penghasil oksigen bagi dunia. Salah satu perwakilan utama dalam upaya ini adalah Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Mamasa Timur di Sulawesi Barat, daerah yang tidak hanya memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa, tetapi juga menjadi tempat uji coba bagi upaya diplomasi lingkungan yang berkelanjutan. KPH Mamasa Timur bekerja sama dengan pemerintah Jerman melalui kementrian lingkungan hidup dan kehutanan (KLHK),  menjadi bagian dari inisiatif internasional yang menghubungkan kepentingan lingkungan lokal dengan tujuan global mengatasi perubahan iklim.

Diplomasi hijau yang terjalin di sini tidak hanya berupa transfer ilmu dan dana, tetapi juga mewujudkan hubungan antara hak masyarakat adat, pengelolaan sumber daya yang ramah lingkungan, dan komitmen internasional untuk mengurangi emisi karbon. Pendekatan ini menunjukkan bahwa upaya melindungi lingkungan tidak bisa dipisahkan dari diplomasi antar negara. Mamasa tidak hanya berjuang untuk menjaga hutan daerahnya sendiri, tetapi juga untuk masa depan iklim dunia. Kisah ini menjadi contoh nyata bagaimana kerja sama lintas batas dapat menghasilkan solusi riil untuk permasalahan global mulai dari tingkat masyarakat hingga forum internasional.

Menurut Keohane (1984) dan Nye (1977), Neoliberal Institutionalism menjelaskan bahwa meskipun negara memiliki kepentingan masing-masing, mereka cenderung bekerja sama melalui institusi internasional atau mekanisme formal maupun informal ketika terdapat manfaat bersama (absolute gains) yang dapat diperoleh. Dalam konteks kerja sama kehutanan antara Indonesia dan Jerman di KPH Mamasa Timur, konsep ini relevan untuk memahami dampak kolaborasi tersebut terhadap mitigasi perubahan iklim dan pemberdayaan masyarakat lokal. Indonesia mendapatkan keuntungan melalui dukungan terhadap pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC), pelestarian hutan tropis, dan penguatan ekonomi masyarakat melalui skema perhutanan sosial. Di sisi lain, Jerman memperoleh manfaat berupa kontribusi pada agenda iklim global, peningkatan reputasi internasional sebagai mitra pembangunan berkelanjutan, serta peluang transfer teknologi dan pengetahuan. Dengan demikian, kerja sama ini mencerminkan prinsip utama Neoliberal Institutionalism bahwa interaksi antar negara dapat menghasilkan hasil positif bagi kedua belah pihak tanpa harus terjebak pada logika kompetisi semata.

KPH Mamasa Timur memiliki peran yang sangat strategis sebagai penghubung antara kepentingan lokal dan global dalam pelaksanaan diplomasi hijau antara Indonesia dan Jerman melalui berbagai program kehutanan yang terintegrasi. Sebagai perpanjangan tangan pemerintah Indonesia di tingkat tapak, KPH ini menjadi ujung tombak pelaksana utama beragam inisiatif yang meliputi rehabilitasi hutan yang terdegradasi, konservasi tanah untuk menjaga produktivitas lahan, serta pengembangan perhutanan sosial yang memberikan akses legal bagi masyarakat lokal untuk mengelola sumber daya hutan secara berkelanjutan. Inisiatif-inisiatif tersebut tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat lokal, seperti peningkatan mata pencaharian dan penguatan kapasitas pengelolaan lingkungan, tetapi juga berkontribusi secara langsung terhadap pencapaian komitmen internasional Indonesia dalam pengurangan emisi gas rumah kaca, sebagaimana diamanatkan dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) yang menjadi bagian dari kesepakatan global dalam Perjanjian Paris.

Dalam pelaksanaan tugasnya, KPH Mamasa Timur menjalin kemitraan erat dengan lembaga-lembaga Jerman yang memiliki peran penting dalam mendukung pengelolaan hutan berkelanjutan di Indonesia, seperti Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) yang berperan dalam transfer pengetahuan teknis dan peningkatan kapasitas, serta KfW Development Bank yang memberikan dukungan pendanaan strategis untuk program rehabilitasi dan konservasi. Melalui kolaborasi ini, KPH Mamasa Timur berperan sebagai fasilitator utama implementasi program bilateral, yang mencakup koordinasi teknis di lapangan, pengawasan dan evaluasi proyek secara berkelanjutan, serta penerapan prinsip-prinsip keberlanjutan yang telah disepakati oleh kedua negara.

Tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana teknis, KPH Mamasa Timur juga bertransformasi menjadi sebuah living laboratory atau pusat inovasi pengelolaan hutan yang memadukan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial dalam satu kerangka kerja terpadu. Konsep ini diwujudkan melalui kegiatan-kegiatan seperti restorasi daerah aliran sungai untuk menjaga kualitas dan kuantitas air, pencegahan deforestasi melalui patroli dan pengawasan partisipatif, serta perlindungan keanekaragaman hayati yang menjadi aset penting baik secara ekologis maupun ekonomi. Model pengelolaan seperti ini tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi masyarakat setempat, tetapi juga menciptakan pengetahuan dan praktik terbaik (best practices) yang dapat direplikasi di wilayah lain di Indonesia maupun di negara mitra.

Keberhasilan model pengelolaan yang dijalankan KPH Mamasa Timur bersama mitra internasional tidak hanya berdampak pada perbaikan kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat setempat, tetapi juga diperkuat oleh pengakuan formal dari pemerintah pusat. Pada Juli 2024, KPH Mamasa Timur dianugerahi penghargaan KPH Efektif oleh KLHK—penghargaan pertama di Sulawesi Barat—karena mendukung terciptanya masyarakat mandiri dan hutan yang lestari berita.sulbarprov.go.id. Hal ini sekaligus memperkuat citra Indonesia di kancah internasional sebagai negara yang serius menangani isu perubahan iklim dan pelestarian lingkungan. Penganugerahan tersebut konsisten dengan konsep soft power yang dikemukakan oleh Nye (2004), di mana keberhasilan nyata di tingkat tapak menjadi “etalase” diplomasi hijau Indonesia di forum global, memperlihatkan kemampuan Indonesia menjalin kerja sama kehutanan yang menghasilkan dampak positif terukur bagi keberlanjutan planet.

Inisiatif diplomasi hijau antara Indonesia dan Jerman yang diimplementasikan melalui program kehutanan di KPH Mamasa Timur membuktikan bahwa kolaborasi lintas negara dapat memberikan manfaat nyata di tingkat lokal sekaligus mendukung komitmen global terhadap perubahan iklim. KPH Mamasa Timur berperan strategis sebagai jembatan antara kebijakan internasional dan kebutuhan masyarakat setempat, dengan fokus pada rehabilitasi hutan, konservasi tanah, pengembangan perhutanan sosial, dan perlindungan keanekaragaman hayati. Dukungan teknis dari GIZ serta pendanaan dari KfW Development Bank memperkuat kapasitas pengelolaan hutan berkelanjutan yang tidak hanya menjaga ekosistem, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Keberhasilan ini diakui secara nasional melalui penghargaan “KPH Efektif” dari KLHK, yang menjadi bukti konkret efektivitas model pengelolaan ini. Secara diplomasi, keberhasilan tersebut mencerminkan penerapan soft power Indonesia di bidang lingkungan, menjadikan Mamasa Timur sebagai contoh “etalase” bagaimana aksi lokal mampu memperkuat citra positif Indonesia di panggung global serta memberi kontribusi nyata bagi keberlanjutan planet.

Editor: Nurul Inzana Filail

Nurul Inzana Filail

Just call me Iyun. Meet me on Instagram @iyunniee_

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok