
Penulis: Pindiaman Hulu
Unsulbar News, Mejene – Hubungan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat kembali menjadi sorotan setelah AS menurunkan tarif impor terhadap sejumlah produk asal Indonesia menjadi 19%. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, “Indonesia akan membayar tarif 19% kepada Amerika Serikat untuk semua barang yang diekspor ke negara kita,” ungkapnya di hadapan awak media, Selasa (15/07/2025).
Sebelumnya, pada 2 April 2025, donald trump mengumumkan tarif sebesar 32% terhadap produk Indonesia yang masuk ke wilayah Amerika Serikat. Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia menunjuk Duta Besar untuk Amerika Serikat guna bernegosiasi agar tarif tersebut diturunkan, bahkan diupayakan untuk dihapus sepenuhnya. Batas negosiasi semula ditetapkan hingga 9 Juli 2025. Namun, berdasarkan pengumuman terbaru, Indonesia masih memiliki kesempatan untuk melanjutkan negosiasi hingga 1 Agustus mendatang.
Secara mengejutkan, Presiden Amerika Serikat kemudian mengeluarkan pernyataan terbaru melalui kanal YouTube: “Saya berbicara dengan presiden mereka yang sangat hebat, sangat populer, sangat kuat, cerdas, dan kami membuat kesepakatan. Kami memiliki akses penuh ke Indonesia, semuanya,” papar Trump.
“Kami tidak akan membayar tarif. Jadi mereka memberi kami akses ke Indonesia yang belum pernah dicapai sebelumnya. Itu mungkin bagian terbesar dari kesepakatan ini dan bagian lainnya adalah mereka akan membayar [tarif] 19% dan kami tidak akan membayar apa pun. Saya pikir ini akan menjadi kesepakatan yang bagus untuk kedua belah pihak, tetapi kami akan memiliki akses penuh ke Indonesia,” sambung Trump.
Langkah ini memunculkan berbagai spekulasi, mulai dari bentuk kerja sama yang lebih erat hingga kekhawatiran akan ketergantungan dagang yang berlebihan. Di tengah dinamika tersebut, pernyataan Trump yang menyebut bahwa “AS memiliki akses penuh ke Indonesia” memicu pertanyaan: apa sebenarnya maksud dari klaim tersebut?
Kepala Ekonom BCA, David Sumual, menyatakan bahwa, “Ya ini sebenarnya retorika dari trump, ini biasa kan kita lihat dari surat-suratnya pernyataannya memang gaya berbicaranya seperti itu, jadi sebenarnya artinya produk-produk Amerika Serikat sekarang bersaing dengan produk-produk dari negara lain.”
Penting dicatat bahwa proses negosiasi masih berlangsung dan belum bersifat final, terutama karena keputusan ini menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat Indonesia. Menurut Direktur Eksekutif Centre of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, “Masih ada beberapa kemungkinan bahwa kesepakatan ini masih belum final.”
Editor: Nurul Inzana Filail

