
Penulis: Jurlian
Unsulbar News, Majene – Siapa yang tidak kenal Artificial Intelligence (AI)? Dilansir dari Akademik Inovasi Indonesia dan Indonesia Artificial Intelligence Hub, AI adalah teknologi yang memungkinkan sistem komputer meniru kemampuan intelektual manusia, seperti pembelajaran, penciptaan, dan pengenalan gambar.
AI kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, contohnya asisten virtual seperti Siri dan Google Assistant. Bahkan AI juga digunakan di edaran otonom, diagnosa medis, deteksi penipuan, dan sistem rekomendasi di platform streaming.
Sejak tahun 1940-an awal AI dikembangkan sampai sekarang, AI sudah sangat mencuri banyak perhatian. Begitu pula dalam dunia pendidikan saat ini, kecerdasan buatan (AI), telah membawa dampak signifikan pada dunia pendidikan saat ini.
Tapi pernahkah kamu bertanya, apakah AI membantu atau justru mengancam proses pendidikan! Iya atau tidak?
Tentu jawabannya tidak sesederhana itu, karena AI memiliki potensi besar untuk membantu sekaligus membawa tantangan yang perlu diantisipasi. Sebelum mengatakan bahwa AI membantu atau tidak, kamu harus tahu apa dampak dari AI itu dulu.
AI Sebagai Alat Bantu
Salah satu kontribusi positif AI dalam dunia pendidikan adalah kemampuannya meningkatkan akses dan efisiensi pembelajaran. World Economic Forum (2020) menyebutkan bahwa AI mampu mempersonalisasi kurikulum sesuai dengan kebutuhan individu.
Platform pembelajaran adaptif seperti DreamBox atau Knewton dapat menganalisis performa siswa dan menyesuaikan materi pelajaran secara otomatis, memungkinkan siswa yang kesulitan dalam topik tertentu untuk menerima perhatian lebih dalam area tersebut.
Selain itu, AI berperan penting dalam mengurangi beban administratif guru dan dosen. Menurut laporan dari McKinsey (2022), otomatisasi tugas-tugas seperti penilaian tugas dan pembuatan laporan memungkinkan para pendidik untuk fokus lebih pada interaksi langsung dengan siswa, juga meningkatkan kualitas pengalaman belajar.
AI juga dapat membantu membuka akses pendidikan ke daerah-daerah terpencil dengan menyediakan materi pelajaran berkualitas secara daring, seperti yang dilakukan oleh Khan Academy atau platform Coursera. Hal ini memberi peluang bagi pelajar di wilayah yang sebelumnya terhalang oleh keterbatasan infrastruktur fisik.
AI Sebagai Tantangan
Namun, di balik manfaatnya tersebut, ada beberapa tantangan signifikan yang ditimbulkan oleh AI itu sendiri.
Salah satu kekhawatiran terbesar adalah potensi dehumanisasi dalam proses belajar. AI bekerja berdasarkan data dan algoritma, yang tidak selalu mampu mempertimbangkan aspek emosional dan sosial yang sangat penting dalam interaksi pendidikan.
Sebagai contoh, UNESCO Report on AI in Education (2019): Laporan UNESCO menggarisbawahi bahwa, meskipun AI menawarkan banyak manfaat dalam personalisasi pendidikan, ada risiko bahwa penggunaan teknologi ini dapat menggantikan interaksi manusia yang penting bagi perkembangan sosial dan emosional siswa. UNESCO menyarankan agar AI diintegrasikan secara bijaksana agar tetap mempertahankan peran penting guru dan interaksi antar siswa.
Selain itu, AI bisa menimbulkan ketergantungan yang berlebihan pada teknologi. Penggunaan AI dalam pembelajaran yang tidak seimbang dapat mengurangi kemampuan kritis pelajar dalam memecahkan masalah secara mandiri.
Dalam sebuah survei yang dilakukan oleh SpringerOpend, walau tidak secara spesifik responden khawatir siswa terlalu bergantung pada alat berbasis AI, yang dapat menghambat perkembangan keterampilan berpikir kritis mereka. Ada juga risiko kesenjangan digital, di mana siswa di daerah yang kurang memiliki akses ke teknologi canggih mungkin tertinggal lebih jauh, memperbesar jurang ketidaksetaraan dalam pendidikan.
Keseimbangan Adalah Kunci
Dari uraian di atas, jelas bahwa peran AI dalam dunia pendidikan bersifat dua sisi: dapat membantu, namun juga bisa mengancam. Potensi AI sebagai alat bantu pembelajaran sangat besar, tetapi penggunaannya harus disertai pemahaman yang mendalam akan keterbatasannya.
Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu menetapkan kebijakan yang mempertimbangkan aspek etika dan dampak sosial, agar AI dapat digunakan secara bijak.
Keseimbangan antara peran AI dan peran manusia dalam pendidikan harus selalu dijaga. AI sebaiknya dilihat sebagai pelengkap, bukan pengganti, terutama dalam aspek pembentukan karakter dan keterampilan sosial siswa yang tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada teknologi. Hanya dengan demikian kita dapat memastikan bahwa AI benar-benar membawa kemajuan yang positif bagi dunia pendidikan, tanpa mengorbankan aspek-aspek penting lainnya.

