
Penulis : Dina Mariana
Unsulbar News — Kaum perempuan di zaman RA Kartini dan zaman sekarang sangatlah jauh berbeda. Perempuan di zaman RA Kartini sangatlah memiliki keterbatasan, bahkan memiliki kedudukan yang sangat rendah dan dijadikan budak hawa nafsu pada masa itu.
Sehingga karena kesadaran Raden Ajeng kartini atau sering dikenal dengan RA Kartini, yang membuat ia berjuang mati-matian dalam mengangkat derajat perempuan melalui pendidikan.
Tetapi tidak sampai di situ saja mengenai perempuan. Jika kita melihat sejarah perempuan lebih dari yang dibayangkan, bahkan perempuan pernah menguasai
bumi dan laki-laki lah yang ketergantungan dengan kaum perempuan.
Seperti yang dijelaskan dalam buku ‘Sarinah’. Buku tulisan Ir. Soekarno ini yang menjelaskan bahwa perempuan adalah yang pertama kali membuat hukum di muka bumi yaitu hukum peribuan (matriarki).
Mengapa pada masa itu perempuan bisa membuat hukum? Karena pada masa itu ia menjadi penghasil industri yang sangat besar.
Jadi mau tidak mau semua masyarakat maupun laki- laki ketergantungan dengan perempuan, karena jika tidak ia tidak dapat bertahan hidup karena tidak makan.
Karena pada masa itu masa pithecanthropus, yang di mana manusia purba pada masa itu baik laki-laki maupun perempuan berburu di hutan agar dapat berlangsung hidup. Tetapi hanya sebagian perempuan saja ikut berburu, karena melihat lagi kodrat perempuan yang hamil sehingga ia hanya menunggu seorang laki-laki untuk membawa hasil buruannya.
Hasil buruan laki-laki juga tidak menentu, kadang banyak dan terkadang juga sedikit. Sehingga mau tidak mau seorang perempuan mencari makanan di hutan, ia melihat buah-buahan dan memetiknya untuk di beri kepada anaknya yang kelaparan dan seiring berjalan waktu, seorang perempuan baru sadar ternyata benih buah yang ia makan ternyata bisa tumbuh kembali. Ia mengira buah yang ia makan setelah habis akan menjadi sampah.
Nah, dari situ pula juga sehingga perempuan yang pertama kali menemukan cara bercocok tanam (tehnik pertanian). Sehingga ia dapat menghasilkan makanan tanpa bergantung kepada laki-laki untuk menunggu hasil buruan yang tidak pasti. Pada masa itulah perempuan menjadi penghasil produksi terbesar dan laki-laki di bawah kendalinya.
Selain itu, perempuan juga yang pertama kali menemukan cara membuat rumah. Hal ini juga di jelaskan dalam buku tersebut (Sarinah).
Dari sejarah pula, menunjukkan bahwa perempuan bukanlah makhluk yang lemah, bahkan menurut Kautsky, perempuanlah yang pertama kali dalam pembangun peradaban manusia.
Tetapi coba kita bandingkan dengan kebanyakan perempuan sekarang yang lebih mengejar tren, berlomba-lomba dalam mempercantik diri, menganggap dirinya lemah, bahkan rela mengorbankan harga dirinya demi sebuah kata cinta yang di ucapkan oleh laki-laki yang baru ia kenal beberapa bulan.
Hal inilah yang membuat kebanyakan perempuan sekarang lupa akan jati dirinya. Ditambah lagi dengan paradigma-paradigma primitif yang mengatakan “buat apa Perempuan menempuh Pendidikan yang tinggi Jika ujung-ujungnya tetap di dapur”.
Sadar yahh woman, kamu mau menikah, mau jadi pembantu atau jadi ratu oleh suamimu kelak. Jangan mau ketergantungan dengan lelakimu agar nanti dia tidak seenaknya menginjak harga dirimu sebagai perempuan.
Dari maka itu selagi kamu masih muda, luangkanlah waktumu dengan menempuh pendidikan setinggi-tingginya, mempunyai penghasilan sendiri, sehingga kamu terlihat terpandang dan tidak di anggap lemah oleh kaum lelaki.
Jika hal tersebut tertanam dibenak dan diterapkan oleh semua kaum perempuan, yakin dan percaya maka kekerasan dalam rumah tangga tidak akan pernah terjadi.
Mengapa perempuan juga sangat perlu dalam perjuangan kemerdekaan? Karena perempuan merupakan rumah pertama bagi anaknya kelak. Nah, dari anaknya tersebut yang merupakan penerus bangsa. Sehingga perempuan juga sangat mesti memiliki pendidikan
Hal ini juga berkaitan dengan sabda Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa “Perempuan adalah tiang negara, apabila perempuan itu baik maka akan baiklah negara dan apabila perempuan itu rusak, maka akan rusak pula negara.”.
Penulis adalalah mahasiswa prodi Agribisnis Unsulbar, angkatan 2022. Saat ini menjadi crew magang VIII Unsulbar News.

