
Oleh : Citra Indah Pratiwi
Unsulbar News, Majene. “Sepenggal Cerita Perjalanan Jurnalis Unsulbar News mengikuti kegiatan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) PK Identitas Unhas 2019!!”
Terik matahari mengawali langkahku menyelesaikan segala urusan terkait keberangkatan untuk secercah harapan dan menggapai mimpi di kota Daeng, Makassar. Sempat terbesit dalam hati akan gambaran kegiatan yang akan aku lalui esok hari.
Bersama empat teman lainnya yaitu Kamariah dan Masdin (Unsulbar News) serta Irwan dan Indah (Karakter Unsulbar). Kami bertolak dari Majene, Sulawesi Barat menuju Kota Makassar pada jam 18:00 Wita dan sampai 02:00 Wita dini hari. Mata bengkak, badan pegal mengharuskan diri untuk rehat segera, karena esok suatu hal baru telah menanti.
Senyum merekah di pagi hari. “Selamat pagi kota Daeng,” gumam ku. Sungguh indah dan bersahaja, pelayanan panitia yang ramah membuat kami betah disana.
Oh, iya. Kegiatan yang kami ikuti selama 4 hari, dari 23 hingga 27 Oktober 2019 adalah Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN 2019) yang di adakan oleh PK Identitas Unhas yang merupakan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) tertua di Indonesia.
Merupakan kebanggan tersendiri dapat dipertemukan dengan orang-orang hebat dari segala penjuru dengan latar belakang yang sama dan skil di bidangnya yang sudah tidak diragukan lagi.
Kagum adalah kata yang mewakili perasaanku saat kami menerima materi dari orang-ang hebat itu. Kak Dahlan Dahi (Chief Digital Kompas Gramedia), kak Yana (Katadata.co), Mas Asep Setiawan sebagai anggota dewan pers, kak Inal (Kompas) dan Kak Ahmad (CNN Indonesia).
Menerima materi Strategi Mengelola Media Online, Info Grafis, Membuat Penelitan Menjadi Sebuah Berita, Peran Lembaga Pers Mahasiswa, hingga Pembuatan Video dan Narasi Pendek, peserta diharapkan mampu menjadi jurnalis muda yang kreatif dan visioner.
“Lembaga Pers Mahasiswa di suatu Perguruan Tinggi memanglah sangat dibutuhkan, walaupun berada di bawah Universitas kalian harus independen dan pandai bersikap” ujar Asep, anggota Dewan Pers saat memotivasi kami (peserta).
Perbedaan suku, agama ras dan budaya tidak menghalangi kami utuk saling berinteraksi satu sama lain.
“Mari berbahagia,” melupakan beban kuliah yang tak hentinya membelenggu. Perasaan canggung dan kemudian saling berkenalan dan akhirnya Akrab membuat kami seperti bersaudara. Tidak jarang kami bertukar pikiran dan belajar bahasa daerah dari masing-masing peserta dan kemudian saling menertawakan. Itulah kami, Peserta PJTLN 2019.
Tak terasa waktu kian berlalu, Semilir angin mammiri membangunkan kami, “Hari ini adalah hari terakhir,” ujar Dina, teman sekamarku yang berasal dari LPM Dinamika UIN Sumatra Utara.
Pagi itu kami dijadwalkan Field Trip dan Camping bareng (hari terakhir) di daerah Salenrang (Rammang-Rammang) Kabupaten Maros. Kami segera bergegas merapikan barang bawaan dan me charge baterei handphone kami hingga penuh, karena kami ditugaskan mengambil sebuah video perjalanan sebagai aktualisasi materi video dan narasi pendek dan akan di evaluasi oleh Kak Ahmad (CNN Indonesia).
Bus putih nampak tengah terparkir di halaman tempat kami menginap yang menandakan kami harus segera melangkahkan kaki karena perjalanan akan segera dimulai.
Ditempuh kurang lebih 1 Jam, kami selingi dengan mendengarkan musik, dan memanjakan mata akan pemandangan yang di suguhkan. Terlihat dari jendela bus yang kami tumpangi nampak Gunung menjulang dan bebatuan kars berderet di sepanjang perjalanan membuat kami bertanya-tanya akan sejarah tempat ini.
Tak butuh waktu lama setelah bus berhenti, kami segera melangkahkan kaki karena hari sudah menunjukan pukul 15: 30 WITA, dimana kita harus sampai tujuan sebelum matahari kembali keperaduannya.
Berselang 30 menit kami sampai di tempat yang telah di tentukan. Tenda-tenda dome yang dihiasi lampu kerlap-kerlip menyambut kedatangan kami.
Malam hari kami habiskan dengan penampilan budaya, memetik gitar, bernyanyi dan membakar api unggun hingga larut malam sebagai tanda bahwa esok kami akan berpisah.
Langit timur merah merona melambangkan pagi akan segera mejelang. Udara dingin yang menusuk dalam tubuh tak mengurungkan niat kami untuk segera beranjak dari tempat tidur.
Sebelum kembali ke penginapan, kami menjajaki bebatuan karst dengan perahu. Nampak lebih dekat betapa eksotisnya destinasi wisata ini. Stelah berkeliling dan ber swa foto, kami melepas lelah dengan menikmati rammang-rammang dari atas bukit.
Waktu kian berlalu dan mengaruskan kami untuk kembali ke penginapan. Di perjalanan pulang, kami saling bercerita tentang apa yang baru saja kami alami. Pengalaman yang tidak disangka, bahkan tidak disengaja untuk dialami.
Setelah dari perjalanan itu, kami kembali kepenginapan untuk bergegas meninggalkan penginapan untuk kembali ke daerah masing-masing. Memang berat, meninggalkan sepenggal kisah yang kami ukir dalam waktu yang sangat disingkat.
“Sampai jumpa kembali sobat-sobat Lembaga Pers Mahasiswa Se Indonesia, semoga kita kembali dipertemukan di suatu kegiatan yang berbeda,”
Sepahit obat atau semanis gula, hidup tetaplah menjadi sebuah perjalanan yang mesti kita tempuh tanpa bisa kita menawarnya. Apapun yang akan terjadi di masa depan, tetaplah optimis. Walaupun pada kenyataannya untuk sedetik ke depan, Tuhan tetap saja membiarkan lika liku jalan kehidupan menjadi misterius bagi kita semua.

“Salam dari kami, Kru Unsulbar News ! dan salam Jurnalis Muda”
