
Jurnalis : Ade Irma Sari
Unsulbar News, Majene – Dosen Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) dan Dosen dari Universitas Hau Oleo (UHO) bersama jalankan Program Kolaborasi Sosial Membangun Bangsa (Kosabangsa).
Kosabangsa sendiri merupakan program pendanaan dari Ditjen Diktiristek, guna menjembatani kolaborasi untuk pengembangan dan penerapan IPTEKS dan dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat.
Program ini memprioritaskan wilayah daerah tertinggal, serta wilayah prioritas kemiskinan ekstrem dan fokusan tertentu.
Dilaksanakan selama tujuh hari, Kamis-Rabu (19-25/10/2023), Tim Kosabangsa Unsulbar – UHO berlangsung di Desa Balla Tumuka, Kecamatan Balla, Kabupaten Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat.
Dosen dari kedua PTN tersebut memilih desa yang ada di Mamasa, karena termasuk wilayah yang masih tertinggal.
Sebagaimana dikatakan Ketua pelaksana Program Kotabangsa dari Unsulbar, Eka Dewi Kartika,S.H.,M.H.
“Kita memilih Desa Balla Tumuka karena merupakan desa dengan kategori desa sangat tertinggal,” katanya.
Lebih terperinci, tim ini terdiri dari dosen Unsulbar termasuk Eka Dewi, bersama Erwin,S.E.,M.M dan Ika Novitasari, S.H.,M.H.
Serta pendamping Progam Kosabangsa dari UHO, dengan Ketua Wa Iba, S.Pi.,M.App.Sc.,Ph.D dan Anggota pendampingnya Dr. Irdam Riani,S.Pi.,M.Si.
Dalam kolaborasi tersebut juga ada beberapa mahasiswa dari Unsulbar yang dilibatkan.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat program Kosabangsa ini dilakukan terhadap dua mitra. Pertama adalah Ibu rumah tangga penenun di Desa Balla Tumuka. Kedua yakni Bumdes (Badan Usaha Milik Desa) Desa Balla Tumuma.
Hasil tenun yang dihasilkan para ibu rumah tangga sangat terbatas yakni berjumlah empat kain dalam sebulan. Hal itu dikarenakan keterbatasan biaya dalam membeli bahan baku tenun dan juga karena masih menggunakan alat tenun tradisional yang dipastikan membutuhkan waktu dalam proses menenun.
Untuk Bumdes sendiri tidak mempunyai produksi produk sendiri untuk dipasarkan, mereka hanya menjual produk yang dititipkan di Bumdes oleh masyarakat sekitar.
“Iya kualitas tenunnya itu masih rendah, masih menggunakan alat tenun tradisional dan kesulitan dalam pemasaran,” tambah Eka pada Unsulbar News melalui WhatsApp.
Sehingga kegiatan ini bertujuan untuk meningkatan kualitas produksi dan daya saing tenun ibu rumah tangga. Karena melihat kualitas tenun yang masih rendah didaerah tersebut.

