
Penulis : Nurul Inzana Filail
Unsulbar News, Majene– Kembali dosen dari Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) menggelar program pengabdian. Dimana pengabdian bertema “Fasilitasi Penyusunan Masterplan Kawasan Wisata Pantai Ba’batoa, Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian” terlaksana dengan bantuan Hibah Pendanaan Program Pengabdian Kepada Masyarakat, Kemitraan Desa dari Unsulbar. Kali ini Desa Lapeo menjadi mitra pada program tersebut.
Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, 28 hingga 29 Oktober 2023 berlokasi di Cafe Ba’Batoa, Pantai Ba’Batoa, Desa Lapeo. Pihak-pihak yang terlibat diantaranya adalah, Dosen Fakultas Teknik yang dikoordinir oleh Rahmiyatal Munaja, ST., M.Sc dan Farid Wajidi, S.Kom., M.T (sebagai fasilitator).
Lalu beberapa dosen Fakultas Teknik sebagai pendamping fasilitator; Sri Apriani Puji Lestari, ST., MT , Virda Evi Yanti Deril, ST., MT. Kegiatan ini juga melibatkan Mahasiswa Teknik PWK Unsulbar Angkatan 2020 sebagai asisten fasilitator; Dian Putri, Rio Hidayat, Andris Bertohir Panginan, Mujahid, Yusrialdi.
Ikut terlibat pula pihak mitra kegiatan ini yaitu Kelompok Sadar Wisata Desa Lapeo, Pemerintah Desa Lapeo dan masyarakat yang berkegiatan di Pantai Ba’batoa sebagai peserta dalam workshop ini. Serta beberapa mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota yang mengikuti mata kuliah Perencanaan Tapak sebagai bahan pembelajaran dalam proses perencanaan Kawasan wisata turut berpartisipasi sebagai peserta dalam workshop ini.
Pada hari pertama kegiatan, pelaksanaan kegiatan ini didahului dengan pemberian pemahaman oleh Kepala Desa Lapeo, Tim dosen Pengabdi serta Kelompok Sadar Wisata kepada masyarakat yang akan mengikuti kegiatan workshop pemetaan dan perencanaan mengenai pentingnya partisipasi masyarakat terhadap kegiatan pemetaan dan perencanaan ini serta tata cara pelaksanaan kegiatan. Kegiatan dilanjutkan dengan pemetaan aktivitas masyarakat serta potensi dan masalah yang ada di Pantai Ba’Batoa.
Pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan perencanaan pantai Ba’batoa. Seluruh kegiatan ini dilaksanakan secara partisipatif dan berlangsung lancar serta mengundang antusiasme yang besar dari masyarakat. Hasil dari kegiatan ini adalah peta aktivitas, potensi dan masalah serta perencanaan Kawasan wisata pantai Babatoa yang secara manual disusun oleh peserta workshop, untuk selanjutnya akan didigitasi oleh para asisten fasilitator yang merupakan mahasiswa PWK dan didampingi oleh dosen pengabdi dari Fakultas Teknik PWK).
Hasil digitasi akan diserahkan kepada Pokdarwis sebagai Mitra untuk dapat digunakan sebagai referensi yang dapat diajukan untuk proposal investasi penyusunan dan pelaksanaan Masterplan Pantai Ba’batoa.
Menurut Rahmiyatal Munaja (selaku fasilitator) mengatakan, “Partisipasi masyarakat dalam bidang pariwisata sangat berperan penting karena partisipasi masyarakat adalah suatu alat guna memperoleh atau mendapatkan informasi mengenai kebutuhan, kondisi, dan sikap masyarakat.
Masyarakat akan lebih percaya terhadap program pembangunan jika mereka merasa dilibatkan dalam proses perencanaan dan persiapannya, karena mereka juga lebih memahami tujuan dan langkah-langkah dari kegiatan perencanaan serta mempunyai rasa kepemilikan terhadap hasil perencanaan serta mempunyai rasa memiliki terhadap hasil perencanaan tersebut dan akan memudahkan dalam proses pelaksanaan hasil perencanaan ke depannya.
Adapun menurut Wahyu, mewakili mitra program ini Kelompok Sadar Wisata sangat berharap dengan adanya perencanaan ini, seluruh masyarakat yang memanfaatkan ruang pantai dapat memiliki kesadaran penuh untuk pengembangan wisata ini tanpa mengedepankan kepentingan pribadi serta dapat berpartisipasi dalam proses perencanaan pengembangan wisata Pantai Lapeo.
Mengenai Pantai Lapeo
Pantai Lapeo, Kecamatan Campalagian Kabupaten Polewali Mandar merupakan salah satu destinasi wisata di Kabupaten Polewali Mandar. Pantai ini berada dekat dari Mesjid Nurul Taubah Lapeo yang didirikan KH. Muhammad Tahir atau populer dikenal dengan gelar Imam Lapeo.
Pantai Lapeo mudah diakses dari depan SMU Campalagian, melewati jalur ke arah pesisir dengan jarak kurang lebih 1 Km dan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan beroda dua atau beroda empat, dapat pula ditempuh dengan berjalan kaki.
Dinas Pariwisata Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat telah menandai lokasi ini dengan pemasangan Sign board yang menunjukkan nama lain dari pantai ini, yaitu Destinasi Wisata Alam Pantai Baqba Toa, Desa Lapeo. Pantai ini berada pada lokasi yang sangat strategis dan mudah diakses.
Pantai lapeo selain sebagai destinasi wisata, juga merupakan lokasi konservasi penyu Laut Biru dan pusat pembelajaran tentang laut berfokus pada penanganan sampah laut. Data Kelompok sadar Wisata Pantai Lapeo menunjukkan Pantai ini sudah menjadi lokasi pelepasan tukik di bulan April hingga September sejak Tahun 2018 hingga tahun 2023 oleh masyarakat serta pengunjung lokal maupun internasional, serta pernah menjadi lokasi untuk festival bertema lingkungan pada Tahun 2016 dan 2022.
Keseluruhan aktivitas di Pantai Lapeo menjadi dasar inisiatif anak-anak muda setempat yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata Desa Lapeo untuk mengembangkan pantai ini sebagai objek wisata. Pengembangan pantai ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah Desa Lapeo yang telah menganggarkan kurang lebih 300 Juta yang bersumber dari dana desa untuk meningkatkan kualitas infrastruktur serta pengembangan lainnya dari pantai ini. Penataan pantai ini merupakan salah satu program prioritas Pemerintah Desa Lapeo.
Perencanaan Pengembangan Pantai Lapeo yang merupakan prioritas Pemerintah Desa Lapeo merupakan sebuah peluang yang perlu dijemput secara aktif oleh mitra yang merupakan Kelompok Sadar Wisata Pantai Lapeo. Sebagaimana diketahui bahwa fungsi Pantai Lapeo bukan hanya sebagai destinasi wisata alam biasa, melainkan memiliki fungsi lainnya seperti pelestarian lingkungan, satwa pesisir, serta pelestarian kegiatan sosial kemasyarakatan.
Fungsi yang tidak kalah penting dari pantai ini adalah fungsi primer yang terlebih dahulu ada yaitu fungsi kenelayanan. Pantai ini dimanfaatkan para pelaut mandar sebagai lokasi parkir perahu penangkapan ikan dan nelayan menetapkan batas wilayah pasir mereka untuk memarkir perahu.
Rasa kepemilikan ini tentu saja tidak dapat begitu saja ditepis jika diharapkan sebuah hasil perencanaan yang bisa berjalan baik pada proses pelaksanaannya. Pantai ini dimanfaatkan oleh banyak pihak yang berkepentingan untuk beberapa fungsi yang berbeda, sehingga perlu sebuah ruang untuk mempersatukan gagasan yang dapat mengakomodasi setiap kepentingan yang ada.

