Kata ‘Palum’ Resmi Jadi Antonim dari Kata ‘Haus’ di KBBI


Kata ‘palum’, KBBI Daring. Gambar: tangkapan layar.

Penulis: Pindiaman Hulu

Unsulbar News, Majene – Sadarkah kamu jika ternyata selama ini kata ‘haus’ belum memiliki lawan kata yang sepadan? Umumnya, kita hanya bisa menjawab dengan frasa seperti ‘tidak haus’ atau ‘sudah minum’. Sekarang, hal ini menjadi lebih jelas. Kata ‘palum’ resmi dimasukkan ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Edisi VI Daring sebagai antonim dari kata ‘haus’.

Menurut KBBI, palum diartikan sebagai “sudah puas minum; hilang rasa haus.” Kata ini akhirnya dapat mewakili kondisi yang selama ini tidak bisa dijelaskan dengan satu kata. Keberadaannya menjawab kebutuhan ekspresi yang ringkas dan tepat dalam percakapan maupun tulisan.

Menariknya, kata ‘palum’ diserap dari bahasa Batak Pakpak, salah satu dialek Batak dari wilayah Sumatra Utara. Dalam budaya lisan masyarakat Pakpahan, kata ini digunakan untuk menggambarkan keadaan setelah minum di mana rasa haus telah benar-benar hilang dan tubuh merasa puas.

Dalam Kamus Bahasa Dairi Pakpak – Indonesia (Tindi Radja Manik, 1977), ‘palum’ memiliki arti sembuh, sembuh dahaga (RW).

Masuknya kata ‘palum’ menjadi bukti bahwa bahasa Indonesia terus tumbuh lewat kekayaan bahasa daerah. Setiap kata yang ditambahkan bukan sekadar pelengkap, tetapi jembatan antara budaya lokal dan identitas nasional.

Kini, jika haus adalah kekosongan, maka palum adalah kepenuhan. Sebuah kata baru dengan makna yang sudah lama kita cari.

Tanggapan Ahli Bahasa

Dilansir dari kompas.com, Guru Besar Ilmu Bahasa Universitas Gadjah Mada (UGM), I Dewa Putu Wijana menerangkan bahwa kata ‘palum’ mungkin difungsikan menjadi lawan kata haus. Hal ini bertujuan untuk mengimbangi kata lapar yang memiliki lawan kata ‘kenyang’.

“Mungkin ditujukan menjadi imbangan pasangan kenyang dan lapar, sedangkan kata haus keinginan untuk minum tidak memiliki imbangan untuk mengungkapkan kejenuhan minum,” tutur Putu.

Meski demikian, ia mengaku belum yakin akan keberhasilan kata baru ini. Putu menjelaskan, meski kata ‘palum’ sudah ditambahkan ke dalam KBBI, belum tentu masyarakat dapat menerimanya secara penuh.

“Jadi, boleh saja mencoba mengadopsi kata, tetapi masyarakatlah yang akhirnya menentukan keberterimaannya,” lanjut dia.

Baca Juga: [Opini] Lestarikan Bahasa Daerah, Utamakan Bahasa Indonesia, dan Kuasai Bahasa Asing

Ia mencontohkan, beberapa kata seperti “jasa boga, adi kodrati, dan kesejagatan” kurang berhasil karena masyarakat lebih senang menggunakan “katering, globalisasi, supranatural”.

Sebaliknya, kata “canggih dan mantan” berhasil karena bisa mengalahkan padanan asingnya “sophisticated dan eks atau former”. Ia pun menegaskan bahwa kata palum hingga kini belum terlalu dikenal dan keberhasilan kata ini dapat dilihat dari penerimaan masyarakat nanti.

Editor: Marselino Geradus

Marsel

Gen-Z yang suka belajar hal-hal baru

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok