
Jurnalis : Ardelia Artanti AF
Unsulbar News, Majene – Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kebangsaan 2022 berlangsung di Kalimantan Tengah sejak 20 Juli hingga 20 Agustus.
KKN Kebangsaan tersebut melibatkan berbagai mahasiswa di Indonesia. Termasuk 10 mahasiswa Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) yang kemudian disebar ke berbagai desa.
Salah satunya Desa Kanamit, Kecamatan Maliku, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tegah. Dimana Ketua Kelompok KKN di desa tersebut adalah Mahasiswa Unsulbar, Muhammad Alif Mulky.
Kepada Unsulbar News, Alif Mulky mengatakan selama terjun ke masyarakat, mereka melakukan berbagai program kerja.
Salah satunya sosialisasi pembuatan pupuk hayati yang terbuat dari akar bambu dan pestisida nabati yang terbuat dari daun pepaya, pada Minggu (14/7/22) lalu.
“Saat melakukan survei di desa dan berinteraksi bersama masyarakat dilihat dari bidang pertaniannya dari berbagai komoditas tanaman yang ditanam berupa sengon, sawit, karet, tanaman cabe dan komoditas tanaman lainnya yang dibudidayakan namun memiliki kendala dalam perawatan serta rentan terserang OPT (Organisme Penganggu Tumbuhan),” terang Mulky, Sabtu (26/8/2022).
Sosialisasi digelar di balai Desa Kanamit tersebut ditujukan ke kelompok tani.
Hadir juga kepala Desa Kanamit, Babinsa, Ketua RT, Tokoh masyarakat serta tenaga kesehatan Desa Kanamit.
Adapun tujuan sosialisasi ini kata mahasiswa KKN lainnya Meldi Marselus (Universitas Palangka Raya) bahwa mendorong masyarakat di Desa Kanamit berdaya kelola memanfaatkan sumber bahan baku yang ada untuk menggantikan pupuk kimia maupun pestisida kimia.
“Bahan bakunya mudah diperoleh tanpa harus membeli,” tambah Meldi.
Menurut Meldi, bahan baku pembuatan pestisida nabati sangat mudah karena bisa memanfaatkan tumbuhan yang ada di lingkungan.
Seperti tumbuhan pepaya (Carica papaya) yang getahnya mengandung kelompok senyawa/kandungan enzim sistein protease seperti papain dan kimopapain. Serta menghasilkan senyawa-senyawa golongan alkaloid, terpenoid, flavonoid dan asam amino yang sangat beracun bagi serangga pemakan tumbuhan.
“Senyawa-senyawa tersebut dapat bersifat racun kontak, racun pernapasan dan racun perut bagi hama dan residu atau sisa-sisa sampah yang dihasilkan dari pestisida nabati dari daun pepaya ini lebih mudah terurai sehingga lebih aman bagi lingkungan,” beber dia.
Dikatakan anggota KKN Desa Kanamit Krisda Maya Pista (Universitas Palangka Raya), bahwa pembuatan pupuk hayati juga ramah lingkungan. Karena memanfaatkan dari sampah-sampah organik seperti dari sisa-sisa sayuran, sisa buah-buahan, sisa makanan, hingga daun kering.
Menurut Kepala Desa Kanamit, Hadi merespon positif kegiatan tersebut, karena relevan dengan kebutuhan masyarakat akan pupuk dan pestisida yang ramah lingkungan.

